<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kelolauang.com &#187; perencanaan keuangan pribadi</title>
	<atom:link href="http://kelolauang.com/category/perencanaan-keuangan-pribadi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kelolauang.com</link>
	<description>Kelola Uangmu Gapai Citamu</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Nov 2011 13:49:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.5</generator>
		<item>
		<title>Perencanaan Keuangan : Sebuah perjalanan, bukan tujuan</title>
		<link>http://kelolauang.com/2011/11/perencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2011/11/perencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 13:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wongkar</dc:creator>
				<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Masih hari Rabu tapi bagi sebagian kita bayangan weekend sudah mulai mengganggu pikiran. Sudah berencana pergi kemana ? Pantai ? Gunung ? Mall ? Kemanapun itu yang penting tujuannya satu, tempat yang bisa dinikmati, baik perjalanannya maupun tujuannya. Bagaimana kalau ke Bandung ? Good idea ! Pakai apa kesana ? Mau langsung tiba atau mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2011%2F11%2Fperencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2011%2F11%2Fperencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Masih hari Rabu tapi bagi sebagian kita bayangan weekend sudah mulai mengganggu pikiran. Sudah berencana pergi kemana ? Pantai ? Gunung ? Mall ? Kemanapun itu yang penting tujuannya satu, tempat yang bisa dinikmati, baik perjalanannya maupun tujuannya.</p>
<blockquote><p>Bagaimana kalau ke Bandung ? Good idea !<br />
Pakai apa kesana ?<br />
Mau langsung tiba atau mau mampir dulu di puncak ?<br />
Kalau lewat puncak, macet ngga ya ?<br />
Jam berapa harus berangkat agar tidak terjebak macet ?</p></blockquote>
<p>Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi merupakan rencana perjalanan yang sedang kita susun. Mudah-mudahan dengan rencana ini, perjalanan Jakarta – Bandung menjadi bisa lebih dinikmati dan yang lebih penting lagi tidak salah jalan.</p>
<p>Financial Planning atau perencanaan keuangan adalah suatu proses, sama seperti perjalanan dari Jakarta menuju Bandung tadi. Proses perencanaan keuangan dilakukan untuk mencapai tujuan keuangan. Baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Membeli mobil, jalan-jalan ke luar negeri adalah contoh tujuan jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang biasanya berhubungan dengan persiapan sekolah anak dan persiapan masa pensiun.</p>
<p><em><strong>Ketahui tujuan keuangan</strong></em></p>
<p>Saat ditanya apa yang menjadi tujuan keuangannya beberapa dari kita dengan meyakinkan menjawab <em>mencapai financial freedom !</em> Sangat solid dan fantastis. Betul financial freedom adalah tujuan keuangan, tapi berapa dan apa saja yang kita butuhkan untuk mencapai itu ?  Tanpa angka yang pasti, ibarat pergi berlibur tanpa tahu tujuannya dan kapan liburannya.</p>
<p><em><strong>Tetapkan batas waktu</strong></em></p>
<p>Selanjutnya adalah menentukan kapan ingin tujuan tersebut kita capai. Untuk proses yang berhubungan dengan sekolah anak atau persiapan masa pensiun, waktunya biasanya sudah fixed tergantung umur kita. Untuk mobil atau rumah, sangat fleksibel tergantung dalamnya kantong yang kita punya. Satu hal penting yang harus diingat dalam menentukan batas waktu : <em>realistis</em>. Realistis yang optimis ya, karena bagi sebagian orang mujizat juga realistis.</p>
<p><em><strong>Ketahui posisi sekarang</strong></em></p>
<p>Sadar dengan posisi saat ini akan sangat membantu kita dalam menetapkan batas waktu yang realistis. Besar pendapatan dan pengeluaran akan menentukan seberapa cepat kita sampai di tujuan keuangan yang diinginkan. Apabila dari metode menyimpan uang saat ini diketahui butuh waktu yang terlalu panjang untuk mencapai tujuan keuangan, tentu saja harus dilakukan beberapa penyesuaian.</p>
<p><em><strong> Tentukan alat untuk mencapai tujuan</strong></em></p>
<p>Untuk berlibur sekeluarga dari Jakarta ke Bandung tentu saja tidak realistis jika kita memilih sepeda sebagai metode transportasinya. Setelah mengetahui tujuan keuangan, kapan target pencapaiannya, dan bagaimana kemampuan kita sekarang, tahap selanjutnya adalah menentukan instrumen atau media apa yang tersedia di pasaran untuk kita gunakan mencapai tujuan keuangan kita. Pasar menyediakan banyak pilihan. Tetapi sesuai dengan prinsip <em>high risk high return</em>, tidak semua produk cocok untuk semua orang. Kenali kemampuan kita untuk mentoleransi resiko, sehingga saat ekonomi sedang melemah, kita tidak perlu ikut-ikutan lesu dan lemas.</p>
<p>Tujuan keuangan kita sangat mungkin lebih dari satu, dua bahkan lima. Idealnya semua tujuan tersebut bisa dipenuhi dalam satu tepukan. Namun sayangnya kenyataan sering tidak seindah gambaran diatas kertas. Keterbatasan dari pendapatan kita menyebabkan harus ditentukan skala prioritas, kebutuhan yang mana mutlak harus didahulukan dan yang mana bisa menunggu untuk sementara waktu.</p>
<p>Tujuan keuangan apapun yang menjadi prioritas utama, perencanaan keuangan tetap harus dilakukan. Mulailah dengan sesuatu yang terjangkau, lebih dini lebih baik. Seiring waktu, perubahan keadaan, dan meningkatnya kemampuan, lakukanlah <em>review</em> terhadap proses perjalanan kita. Pastikan bahwa kita masih di jalur yang tepat menuju tujuan keuangan kita.</p>
<p><em>Plan early, live comfortably !</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2011/11/perencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DANA PENSIUN vs ASURANSI PENSIUN</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/02/dana-pensiun-vs-asuransi-pensiun/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/02/dana-pensiun-vs-asuransi-pensiun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 12:24:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yosepsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[asuransi]]></category>
		<category><![CDATA[merencanakan keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa kesempatan, saya masih sering menemukan calon nasabah yang bingung apa persamaan dan perbedaan dana pensiun dengan asuransi pensiun. Apakah keduanya produk yang sama dengan label yang berbeda atau memang keduanya produk yang berbeda? Keduanya PRODUK BERBEDA namun saling melengkapi. 1. DANA PENSIUN Merupakan produk Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) atau Dana Pensiun Lembaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F02%2Fdana-pensiun-vs-asuransi-pensiun%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F02%2Fdana-pensiun-vs-asuransi-pensiun%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/02/facingfuture.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-105" title="facingfuture" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/02/facingfuture-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Dalam beberapa kesempatan, saya masih sering menemukan calon nasabah  yang bingung apa persamaan dan perbedaan dana pensiun dengan asuransi  pensiun. Apakah keduanya produk yang sama dengan label yang berbeda atau  memang keduanya produk yang berbeda?</p>
<p>Keduanya PRODUK BERBEDA namun saling melengkapi.<br />
<span id="more-107"></span><br />
1. DANA PENSIUN<br />
Merupakan produk Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) atau Dana Pensiun  Lembaga Keuangan (DPLK). Produk ini dapat dipasarkan internal khusus  perusahaan sendiri atau dipasarkan ke luar. Beberapa perusahaan  mengikutkan karyawannya dalam program dana pensiun yang diselenggarakan  oleh DPLK namun ada pula yang dikelola sendiri. Beberapa contoh DPLK  adalah : DPLK Manulife, Winterthur Life, Bringinlife, Allianz, dan lain  sebagainya. Sedangkan beberapa contoh DPPK adalah : DPPK Garuda,  Samudera Indonesia, Pertamina, INCO dsb. (Detail nama DPPK dan DPLK  dapat dilihat di <a href="http://www.dana-pensiun.com/" target="_blank">www.Dana-Pensiun.com</a>).<br />
Di tengah era bancassurance ini; produk DPLK pun bisa dipasarkan melalui  pihak perbankan sebagai contoh : DPLK BRI dipasarkan di counter Bank  BRI, Produk &#8220;Simponi&#8221; DPLK BNI dipasarkan sebagai produk Bank BNI, dan  sebagainya.</p>
<p>Produk dana pensiun dapat disederhanakan sebagai produk yang dimengerti  masyarakat umum &#8220;tabungan bank&#8221;. Dana Pensiun memiliki karakteristik :<br />
1. Hasil Investasi mengikuti hasil kelolaan dana yang dilakukan oleh  manager investasi dengan beragam pilihan penempatan investasi. Rata-rata  DPLK/DPLK mampu memberikan asumsi pertumbuhan dana sebesar 10 &#8211; 22%.<br />
2. Hasil investasi dikenakan beberapa ragam biaya tergantung DPLK/DPPK.  Beberapa biaya yang umum adalah : biaya pendaftaran, biaya pengelolaan,  biaya penarikan, biaya pemindahan investasi dan jenis lainnya.<br />
3. Hasil investasi akan dikenakan pajak progresif sesuai UU No 11/1992  mengenai Dana Pensiun.<br />
4. Peserta/nasabah akan mendapatkan laporan hasil kelolaan dana dan  iuran pokok melalui berbagai pilihan cara : korespondensi surat, online  internet, hotline telepon dan cara-cara lain.</p>
<p>2. ASURANSI PENSIUN<br />
Merupakan produk dari asuransi, berkembang pesat terutama untuk memenuhi  UU No 13/2002 mengenai Perburuhan. Beberapa perusahaan asuransi menamai  produk ini sebagai Jaminan Hari Tua (JHT) seperti PT. Jamsostek; atau  Tabungan Hari Tua (THT)/Kesejahteraan Hari Tua (KHT) di beberapa  perusahaan asuransi lainnya.</p>
<p>Produk asuransi pensiun terutama dimaksudkan untuk :<br />
1). Memenuhi nilai pesangon karyawan apabila terjadi PHK, misal karyawan  bekerja sekian tahun maka akan mendapat Uang Pesangon sekian kali gaji  terakhir. Penekanan pada produk asuransi pensiun adalah adanya HASIL  PASTI sesuai yg diamanatkan UU.</p>
<p>2). Memberikan dana apabila terjadi resiko yakni meninggal dan cacat.   Karyawan tersebut akan mendapatkan santunan kematian bagi ahli waris  atau santunan cacat.</p>
<p>Pada poin kedua inilah yang menonjol perbedaan Dana Pensiun dengan  Asuransi Pensiun selain HASIL PASTI pada asuransi pensiun.</p>
<p>Kiranya pengantar awal ini mampu membuka wacana pembaca akan kehadiran  kedua produk yang berbeda namun saling melengkapi.</p>
<p>Yosep Sudarso A.A, S.Minute<br />
AAK, AAAIJ<br />
Praktisi Managemen Resiko, Asuransi dan Dana Pensiun<br />
Yosep@Dana-Pensiun.com<br />
Yosepsa@Kelolauang.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/02/dana-pensiun-vs-asuransi-pensiun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yuk, Pensiun Segera [2]</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/02/yuk-pensiun-segera-2/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/02/yuk-pensiun-segera-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 04:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yosepsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Memulai Bisnis Wirausaha]]></category>
		<category><![CDATA[Pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[merencanakan keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[pensiun dini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan artikel ini Waryanto menulis komentar atas artikel saya 25 Januari 2010 di blog KelolaUang.com : “Yosep, Thanks untuk tulisannya, menginpirasi dan menguatkan lagi niat niat untuk meniru jejak jejak orang yang tangguh dan berdedikasi dalam hidupnya. Untuk menjadi pengusaha, sepertinya harus dimulai dari seberapa besar zona kenyamanan seseorang, keberanian untuk lepas dari zona kenyamanan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F02%2Fyuk-pensiun-segera-2%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F02%2Fyuk-pensiun-segera-2%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/02/facingfuture.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-105" title="facingfuture" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/02/facingfuture-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Lanjutan <a href="http://kelolauang.com/2010/01/yuk-pensiun-segera/">artikel ini</a></p>
<p><a href="http://sebastianuswaryanto.blogspot.com/" target="_blank">Waryanto</a> menulis komentar atas artikel saya 25 Januari 2010 di blog KelolaUang.com : “Yosep,<br />
Thanks untuk tulisannya, menginpirasi dan menguatkan lagi niat niat untuk meniru jejak jejak orang yang tangguh dan berdedikasi dalam hidupnya.<br />
Untuk menjadi pengusaha, sepertinya harus dimulai dari seberapa besar zona kenyamanan seseorang, keberanian untuk lepas dari zona kenyamanan, dan tanggung jawab yang sekarang ada. Misalnya sekarang langsung disuruh wirausaha, terus terang belum siap. Namun niat sudah ada, mudah mudahan kuat hati, kuat iman hehe.”<br />
<span id="more-104"></span><br />
Komentar senada sering saya dengar dari banyak teman yang ingin &#8220;lepas&#8221; baik dari zona &#8220;kenyamanan&#8221; (bila penghasilan dari kerja karyawan sudah di atas rata-rata penghasilan)&#8221; maupun &#8220;lepas&#8221; dari zona &#8220;ketidaknyamanan&#8221; (bila penghasilan bulanan hanya bisa pas, yang sering didoakan menjadi doa penghasilan pas ..pas mau ada, pas ada &#8230;. Sayangnya beberapa kesempatan &#8230;.pas &#8230;.tidak ada uang ..he&#8230;.he&#8230;..).</p>
<p>Sebenarnya apa aja sih yang harus dipersiapkan sebelum kita sesegera mungkin memantapkan niat : OK, AKU PENSIUN SEGERA!?</p>
<p>Lakukanlah : LIFE DIAGNOSIS pada hidup Anda.</p>
<p>Pertama dan terutama : cek diri Anda; apakah Anda golongan Intrapreneur atau Enterpreneur. Bila Anda selalu tidak puas dengan banyak hal dalam organisasi Anda, mencintai tantangan dan memimpikan kebebasan waktu dan finansial, YES, YOU Are Enterpreneur!</p>
<p>Kedua, lihat posisi dan penghasilan Anda saat ini. Sudahkah posisi kerja dan penghasilan Anda saat ini menjadi modal untuk berusaha kelak? Meski tidak harus mencapai posisi puncak organisasi namun bila posisi puncak tersebut bisa Anda raih 1-3 tahun ini, mungkin Anda harus bersabar sedikit. Bisnis adalah NETWORK, dan Network semakin meluas mengikuti tingginya posisi kerja! Namun bila Anda merasa posisi dan penghasilan Anda sudah &#8220;mentok&#8221; dan dianggap cukup untuk memulai penghidupan baru, segera persiapkan mental. Ingatlah, Bob Sadino, Liem Sie Liong dan pengusaha top lainnya pun tidak pernah mencapai posisi puncak, wong pendidikan pun terbatas, tapi mereka bisa meraih puncak kehidupan di atas kaki mereka sendiri bahkan memberi nafkah bagi karyawannya.</p>
<p>Ketiga; meski tidak mutlak; persiapkanlah &#8220;tabungan dan proteksi masa depan&#8221;. Yang terdiri dari :</p>
<p>1. Uang Tabungan Hari Tua; ini bisa dari sebagian uang pensiun/pesangon/jamsostek/dana pensiun dari perusahaan lama disisihkan. Sebagian bisa digunakan untuk modal usaha tapi perhatikan JANGAN HABISKAN SELURUH DANA CASH ANDA. Meski Maslow pernah menyatakan bahwa untuk memenuhi kehidupan tingkat paling dasar dibutuhkan 60X penghasilan bulanan; Anda bisa &#8220;bermain tidak aman&#8221; di tahap awal enterpreneur asalkan Anda HARUS MINIMAL MEMPUNYAI 6-12 X penghasilan bulanan sebagai jaring pengaman terhadap resiko awal set up bisnis (biasanya usaha memerlukan waktu set up 3-6 bulan dan 6 bulan lagi untuk mencapai tingkat kestabilan). Sisa uang setelah dipotong simpanan proteksi, Ingat! harus dikunci pada instrumen yang liquid meski tingkat bunganya tidak terlalu besar, yang berarti pilihannya deposito (bila Anda konservatif) atau Reksadana (bila Anda moderat). Tambahan; modal usaha bisa berasal seluruhnya dari uang Anda, atau Anda bergabung bersama beberapa teman/investor atau Anda meminjam modal pihak lain. Sesi perencanaan keuangan dan dana pensiun akan dibahas di kesempatan lain.</p>
<p>2. Proteksi Kesehatan. dan (bila ada) asuransi pengcoveran kredit terutama dari perbankan). Ini menjadi penting karena biasanya setelah kita berhenti kerja; asuransi kesehatan perusahaan pun otomatis berhenti sedangkan potensi sakit selalu ada. Mintalah pada perencana keuangan Anda program asuransi kesehatan dengan masa asuransi pendek saja misal 1-2 tahun agar premi yang terbayarkan tidak menjadi besar di muka.</p>
<p>Bila Life Diagnosis ini sudah Anda lakukan; berarti Anda siap melangkah untuk BERDOA! Loh kok &#8230;&#8230;. Tanpa kemantapan hati, semua langkah-langkah di atas menjadi tidak berguna.</p>
<p>Selamat menikmati hidup, hidup yang bebas dan memberi arti bagi orang lain.</p>
<p>Yosep Sudarso A.A, S.Mn<br />
AAK, AAAIJ, QIP, kandidat CFP<br />
Yosep@dana-pensiun.com</p>
<p><a href="http://www.dana-pensiun.com" target="_blank">www.dana-pensiun.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/02/yuk-pensiun-segera-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Financial Planning (Perencanaan Keuangan) di Indonesia</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/perkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/perkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 11:44:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wary</dc:creator>
				<category><![CDATA[kelolauang.com]]></category>
		<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan investasi]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[reksa dana]]></category>
		<category><![CDATA[unit trust]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak tau persis, bagaimana perkembangan dunia financial planning (perencanaan keuangan) di tanah air. Namun yang saya alami dan amati dan rasakan, di Singapore, perkembangannya cukup pesat. Terlihat dengan majunya industri ini, tidak hanya dari para pemain besar yang berawal dari bisnis asuransi (prudential, AIA, AXA, Manulife, Great Eastern, dll), tetapi juga mulai muncul indepedent [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fperkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fperkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1193021_21321801.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-20" title="1193021_21321801" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1193021_21321801-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Saya tidak tau persis, bagaimana perkembangan dunia <em>financial planning </em>(perencanaan keuangan) di tanah air. Namun yang saya alami dan amati dan rasakan, di Singapore, perkembangannya cukup pesat. Terlihat dengan majunya industri ini, tidak hanya dari para pemain besar yang berawal dari bisnis asuransi (prudential, AIA, AXA, Manulife, Great Eastern, dll), tetapi juga mulai muncul <em>indepedent financial planner</em> institusi yang memberikan jasa perencanaan keuangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang membedakan <em>independent financial planner</em> dengan <em>financial planner</em> yang mewakili nama perusahaan besar tersebut? Yang jelas, <em>independent financial planner</em> memberikan jasa perencanaan keuangan dengan memakai berbagai instumen / alat perencanaan keuangan dari berbagai institusi. Sebut saja, dalam hal perencanaan investasi misalnya, khususnya dalam hal ini dengan memakai <em>unit trust</em> (reksa dana) sebagai instrumennya, <em>independent financial planner</em> akan mempunyai pilihan lebih banyak <em>unit trust</em> yang bisa di tawarkan atau di sarankan kepada calon klien nya sebagai salah satu instrumen perencanaan investasi. Bahkan instrumen tersebut tidak hanya berasal dari perusahaan perusahaan besar seperti yang saya sebut di atas, tetapi juga dari berbagai <em>fund house</em> yang menyediakan instrumen perencanaan investasi secara khusus. Institusi yang saya maksud adalah seperti: Aberdeen Asset Management, Fidelity, Schroders, Lion Global, Templeton, dsb.<span id="more-98"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut salah satu informasi yang saya dapat dari praktisi <em>financial planner </em>di Singapore, memang demikian perkembangan <em>financial planning</em> ke arah masa datang. Akan muncul semakin banyak <em>independent financial planner</em> yang akan menawarkan jasa perencanaan keuangan dengan menggunakan instrumen dari berbagai institusi. Dengan demikian, klien mempunyai pilihan lebih banyak dalam menentukan perencanaan keuangan yang ia inginkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu saya mengamati, aksesibilitas terhadap institusi <em>independent</em> juga semakin mudah. Yang saya maksudkan adalah akses kepada <em>independent fund house</em> seperti yang saya sebut di atas. Bahkan ada juga independent fund house yang khusus menyediakan jasa investasi di unit trust dengan memberikan pilihan dari unit trust dari berbagai fund house. Beberapa yang cukup besar dan eksis di Singapore adalah: <a href="http://www.fundsupermart.com">www.fundsupermart.com</a>, <a href="http://www.dollardex.com">www.dollardex</a>.com dan <a href="http://www.phillipcapital.com/">www.phillipcapital.com</a>. Ketiga independent fund house tersebut cukup punya peranan yang sangat besar dalam mengembangkan perencanaan investasi di dunia unit trust.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana perkembangan di tanah air?</p>
<p style="text-align: justify;">Selama belum banyak <em>independent financial planner </em>atau <em>fund house</em> seperti yang saya sebut di atas, informasi informasi seperti yang di tuangkan dalam website ini akan menjadi informasi yang sangat berguna bagi setiap individu yang tidak mempunyai banyak pilihan, dan wawasan dalam perencaan keuangan. Tentu saja, informasi dan komunikasi 2 arah dari sumber dan pengguna akan membuat dunia perencanaan keuangan ini akan menjadi lebih berkembang dengan pesat. Setiap kali ada pertanyaan dari para pembaca, akan berkembang menjadi pengetahuan yang akan di nikmati oleh para pembaca pembaca berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam Cerdas Kelola Uang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/perkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rencana Keuangan, Rencana Masa Depan</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/rencana-keuangan-rencana-masa-depan/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/rencana-keuangan-rencana-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 06:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musafirmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[If you would be wealthy, think of saving as well as getting. (Benjamin Franklin, 1706-1790) SUATU SAAT, Aldi mau berpergian nonton pertandingan Formula1 di Malaysia bersama temannya sambil sekalian liburan beberapa hari di sana. Maklum, Aldi adalah seorang maniak pertandingan balap kelas dunia ini. Sudah lama, ia memimpikan melihat langsung bagaimana pembalap andalannya meliuk-liuk di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Frencana-keuangan-rencana-masa-depan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Frencana-keuangan-rencana-masa-depan%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: right;"><em>If you would be wealthy, think of saving as well as getting.</em></p>
<p style="text-align: right;">(Benjamin Franklin, 1706-1790)</p>
<p><img class="alignleft" title="saving" src="http://www.faqs.org/photo-dict/photofiles/list/2606/6185saving.jpg" alt="" width="183" height="153" />SUATU SAAT, Aldi mau berpergian nonton pertandingan Formula1 di Malaysia bersama temannya sambil sekalian liburan beberapa hari di sana. Maklum, Aldi adalah seorang maniak pertandingan balap kelas dunia ini. Sudah lama, ia memimpikan melihat langsung bagaimana pembalap andalannya meliuk-liuk di sirkuit. Tapi, pergi ke Malaysia bukanlah hal gampang—khususnya buat Aldi yang bukan dari keluarga kaya. Sudah setahun, ia menabung dengan menyisihkan uang sakunya.<span id="more-46"></span>Akhirnya, setelah dianggap cukup dengan segala urusan paspor dan sebagainya sudah usai, berangkatlah Aldi pada hari menjelang pertandingan. Terbanglah dia ke Negeri Jiran itu dengan segudang mimpinya. Di sana, ia tak hanya menonton pertandingan. Tapi, ia juga membeli aneka suvenir, dari miniatur mobil, kaos, sampai bendera. Belum oleh-oleh buat pacar dan keluarganya di Jakarta. Sampai akhirnya, ringgit yang ia punyai menipis. Aldi kewalahan saat membeli tiket pulang ke Jakarta. Uang yang ada di tangan tak mencukupi. Akhirnya, ia memberanikan diri meminjam temannya. Untung saja, temannya masih mempunyai uang berlebih. Bila tidak, mungkin Aldi harus sedikit ‘menderita’ di negeri orang.</p>
<p>Banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman Aldi itu. Salah satunya adalah pentingnya merencanakan keuangan. Karena tidak membuat rencana keuangan dengan baik dan tak disertai komitmen, Aldi mengalami nasib seperti di atas. Rencana keuangan terkait dengan banyak jenis kegiatan manusia. Bisa dengan kegiatan  pribadi, keluarga, pendidikan, perjalanan, dan sebagainya. Mengapa uang perlu dikelola?</p>
<p>Uang terkait erat dengan kegiatan manusia. Banyak—meski tak semua, kegiatan manusia bisa jalan bila disokong dengan dana. Rencana keuangan terkait dengan rencana kegiatan manusia di masa mendatang. Boleh disebut merencanakan keuangan sebagai bagian dari merencanakan masa depan.</p>
<p>Dulu, sewaktu saya mau menikah, paman saya menasihati untuk membuat perencanaan keuangan keluarga. Menurutnya, hidup berkeluarga bukan sekadar hidup saat ini. Tapi, juga masa mendatang di mana keluarga akan berkembang dengan kehadiran anak dan sebagainya. Sementara itu, kebutuhan keluarga semakin lama semakin berkembang—terkait dengan pendidikan anak, asuransi, dan sebagainya.</p>
<p>Saya tak bisa membayangkan betapa kacaunya hidup berkeluarga bila tidak ada rencana keuangan. Boleh jadi, tidak adanya rencana keuangan karena kita tidak punya rencana tentang masa depan. Padahal, waktu terus maju tak bisa diputar balik. Salah satu bentuk rencana keuangan adalah menabung. Mertua lelaki saya selalu bilang berapa pun besar gaji suami istri harus ada bagian sekecil apa pun yang disisihkan untuk tabungan. Tabungan ini tidak boleh diutak-atik sebelum waktunya.</p>
<p>Ada asumsi yang salah yang mengatakan bahwa rencana keuangan itu hanya berlaku bagi mereka yang berkantong tebal atau berpenghasilan besar. Seberapa pun penghasilan kita, sebaiknya rencana keuangan tetap dibuat. Mengelola keuangan  merupakan tanda seberapa bijaksana kita dalam memperlakukan uang. Mungkin sudah sifat manusia yang selalu merasa kekurangan meski penghasilannya naik. Dulu, sebelum nikah, saya selalu kehabisan uang di ujung bulan. Padahal, saya sudah mengalami kenaikan gaji. Tapi, di ujung bulan, pengalaman sama terulang: kehabisan uang!</p>
<p>Sekarang, saya menyadari bahwa mengelola keuangan bagian dari tanggung jawab moral saya. Apalagi sudah hadir seorang anak di keluarga yang kebutuhannya masa kini dan masa mendatang wajib saya penuhi. Saat masih lajang, uang dengan seenaknya saya hamburkan. Bekerja pun tak punya tujuan jelas. Sekarang, usai berkeluarga dan punya anak, saya menemukan tujuan saya bekerja. Apa yang saya lakukan lebih mempunyai makna—demi keluarga.</p>
<p>Selain menabung, saya menyisihkan uang untuk asuransi. Saya sadar bahwa rencana hanya tinggal rencana bila tidak ada aksi. Lebih dari sekadar aksi, saya pun dituntut untuk berani berkorban: mengorbankan beberapa keinginan dengan menyisihkan uang demi kebutuhan keluarga di masa depan. Berkorban kadang memang tak enak karena kudu berugahari—entah dengan menunda keinginan pribadi, mengerem keinginan sesaat, maupun mendahulukan kebutuhan yang menjadi priotitas demi kebutuhan di masa mendatang.</p>
<p>Kita semua pasti sepakat bahwa kita tidak ingin melihat keluarga kita menderita di masa depan, anak kita tidak bisa sekolah, dan sebagainya. Kalau begitu, mari buat rencana keuangan sekarang juga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/rencana-keuangan-rencana-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Pengalaman</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/belajar-dari-pengalaman/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/belajar-dari-pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 14:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuris</dc:creator>
				<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[menabung]]></category>
		<category><![CDATA[merencanakan keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Masalah duit memang kadang bikin melilit…hehehe…Apalagi buat aku…dari jamannya masih single sampai sekarang double..eh..berkeluarga, maksudnya…urusan duit suka bikin ribet…:p Dulu ketika masih kecil, lagi jamannya tuh celengan/tabungan yg model rumah-rumahan. Kalau sebelumnya celengan ayam dari tanah liat, waktu itu (jaman masih SD kalau gak salah) dah mulai dipasarkan celengan model rumah mungil begitu. Sampai-sampai jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fbelajar-dari-pengalaman%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fbelajar-dari-pengalaman%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1105756_96956529.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-15 alignleft" style="margin: 4px;" title="Celengan" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1105756_96956529-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Masalah duit memang kadang bikin melilit…hehehe…Apalagi buat aku…dari jamannya masih single sampai sekarang double..eh..berkeluarga, maksudnya…urusan duit suka bikin ribet…:p</p>
<p>Dulu ketika masih kecil, lagi jamannya tuh celengan/tabungan yg model rumah-rumahan. Kalau sebelumnya celengan ayam dari tanah liat, waktu itu (jaman masih SD kalau gak salah) dah mulai dipasarkan celengan model rumah mungil begitu. Sampai-sampai jadi trend tersendiri di kalangan anak –anak waktu itu. Setiap anak di sekolah pasti bercerita tentang celengan barunya yg berbentuk rumah. Nah, aku juga tak mau kalah donk…. Mendengar cerita teman-temanku di sekolah, tergiurlah aku untuk memiliki celengan seperti milik mereka. Tanpa basa-basi, merengeklah daku pada kedua orangtua &#8216;tuk minta dibelikan celengan macam itu, dan ternyata mereka mengabulkannya. Maka, kemudian akupun punya celengan berbentuk rumah-rumahan itu, sama seperti milik teman-temanku di sekolah. Celengannya sangat indah (menurut mata pengelihatanku saat itu), berbentuk rumah mungil berdinding putih tulang, beratap warna pink muda, lengkap dengan pintu yg bisa terbuka dan jendelanya, bahkan dilengkapi kunci di bagian bawahnya pula, pokoknya sempurna deh….<br />
<span id="more-9"></span><br />
Masih kuingat betul, waktu itu sekitar tahun 1986&#8230;jumlah uang sakuku per hari : Rp. 100,- (seratus rupiah). Dengan perincian penggunaannya : Rp. 50,- (lima puluh rupiah) untuk ongkos pulang sekolah naik <em>Benhur</em> (sebutan untuk <em>andong/dokar</em> di kota Raba-sebuah kota kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Barat), sedangkan setengahnya lagi, Rp.50,- adalah uang <em>jajan</em> untuk membeli penganan kecil di sekolah. Hanya dengan berbekal uang Rp.50,- rasanya cukup untuk mengenyangkan perutku yg keroncongan saat jam istirahat sekolah. Dengan Rp. 50,- itu  sudah bisa dipakai membeli mie goreng dan tuak manis sebagai minumannya (coba kalau sekarang&#8230;? mana bisa seperti itu, ya? hehehehe..jaman sudah berubah tentunya).</p>
<p>Nah berhubung baru punya celengan baru niy ceritanya, maka dengan semangat 45 setiap hari aku berusaha tidak menghabiskan uang jajanku itu, minimal pasti Rp. 25,- pasti singgah di tabunganku itu. Mendengar bunyi “cetlek..” saat uang logam mungil bersentuhan dengan dasar celengan, rasanya  seperti mendengar alunan musik merdu bagi kedua teliga kecilku, juga memberi semacam kepuasan tersendiri di benakku saat itu&#8230;^_^</p>
<p>Sebelum mendapatkan celengan rumah-rumahan ini, sebenarnya sudah sejak Taman Kanak-Kanak, kami (aku dan adikku)  dibiasakan menabung, dengan arahan papa. Kami bertiga (aku, papa dan adikku) selalu menabung di dalam “tabungan rahasia” kami, yaitu bekas tempat kock (bola bulutangkis) yg sudah tak terpakai lagi. Mengapa kusebut &#8220;tabungan rahasia&#8221;, karena mama tidak tahu soal tabungan kami ini (atau begitulah pemikiranku saat itu).</p>
<p>Setiap pagi sebelum papa mengantar kami berdua ke sekolah-sebelum beliau sendiri berangkat ke kantor, bertiga kami selalu menyempatkan diri mengecek “tabungan rahasia” kami itu. Setelah menabung, Papa dengan antusias pasti akan mengguncang-ngguncang tempat kock itu sambil tersenyum lebar ke arah kami, beliau akan berkata “sudah hampir penuh nih!), dan selanjutnya aku dan adikku pun berebut meniru tindakan papa…mengguncang-guncang tabung itu sejenak, lalu tersenyum puas. Sungguh menyenangkan rasanya, karena untuk pertama kalinya kami belajar mengumpulkan/menyisihkan sesuatu yg kami miliki dan setiap hari melihat “perkembangan”nya…hehehehe…ada rasa bangga, penasaran dan kepuasan di dalamnya.</p>
<p>Hingga suatu pagi, kami bertiga terperangah, karena berdasarkan &#8220;pengecekan awal&#8221; kami merasa berat “tabungan” kami munurun drastis. lha kok jadi ringan, padahal sehari sebelumnya lumayan berat, karena sudah hampir penuh terisi. Dengan rasa penasaran tingkat tinggi yg tergambar jelas di raut wajahnya, papa pun membuka tutup tempat kock itu, dan benar… isinya ternyata tinggal setengah tabung…lha…? Siapa yg ngambil…? kami bertiga saling berpandangan dengan wajah bingung.</p>
<p>Lalu tiba-tiba mama masuk ke dalam kamar dengan langkah santai, dan begitu melihat kami bertiga terkesima memandang “tabungan rahasia” kami yg tinggal setengah isinya itu, beliaupun berujar tenang : “kemarin mama yg ngambil sebagian..” hahahaha….kalau kuingat lagi bagaimana ekspresi ku, adikku dan papa ketika itu..? mengingat ini adalah &#8220;Tabungan rahasia&#8221; kami, yang maksudnya keberadaannya kami &#8220;rahasiakan&#8217; dari mama. Mengingat hal itu kembali, sungguh geli rasanya&#8230;aku ingat bagaimana perasaanku saat itu, antara tak percaya dan kesal juga..kok diambil sih…protes kami bertiga waktu itu…hehehehe…tapi sebenarnya tidak masalah juga sih, dan setelah mendapat penjelasan mama, kamipun tidak keberatan, malah ada rasa bangga sedikit terselip di dada karena &#8220;Tabungan rahasia&#8221; kami, ternyata berguna. Waktu itu mama lagi <em>kepepet</em>, gak ada duit di dompetnya dan karena harus membayar sesuatu, jadilah tabungan kami di”korban”kan. Ketika kurenungkan lagi saat ini, kejadian sederhana macam itulah mungkin yg menjadi salah satu fungsi sederhana pentingnya tabungan buat kita apalagi bagi yg sudah berkeluarga ya…? hehehehe…bisa buat back up di saat mendesak alias darurat, gitchu…:-)</p>
<p>Saat beranjak dewasa, dan sekarang telah menikah dan dikaruniai dua orang anak yg lucu-lucu, terus terang aku masih belum dapat mengelola keuangan rumah tanggaku dengan benar (masih sering ada &#8220;kebocoran di sana-sini&#8221; setiap akhir bulan, walaupun nggak parah-parah amat sih&#8230;hehehehe ngeles.com). Jujur saja, aku sering merasa kagum sendiri dengan pengalaman pengelolaan keuangan kedua orangtuaku di masa lalu.</p>
<p>Pada awal-awal pernikahan kami, aku mencoba meniru teknik mengelola keuangan keluarga ala mama yg selalu kuperhatikan sejak aku masih kecil. Seingatku, dulu mama punya <strong>buku Journal Debet/Kredit</strong> macam akuntan gitu deh…walaupun dalam bentuk yg sederhana banget, bukunya diberi kolom-kolom dengan penggaris. Ada kolom Nomor, Tanggal, Keterangan, Debet dan Kredit nya…padahal latar belakang pendidikan beliau bukan akuntansi lho…beliau hanya mantan guru SD, tapi lumayan jeli jugalah soal pengaturan keuangan keluarga. Setiap malam beliau akan mencatat pengelurannya selama sehari itu dalam Journalnya tersebut. Aku senang mengamatinya, aku pasti selalu berada disebelahnya sambil mencoba membantu mengingatkan apa-apa saja belanjaan kami hari itu, kalau-kalau beliau ada yg kelupaan.</p>
<p>Masa kecilku banyak dihabiskan di luar jawa, mengikuti tugas papa yg dirotasi tugaskan setiap 5 tahun sekali. Menurut mama saat itu, hidup di luar jawa membutuhkan biaya yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan hidup di Jawa, karena segalanya lebih mahal jika dibandingkan di Jawa, oleh karena itu harus pintar-pintar berhemat, begitu menurutnya. Jadi dengan buku Journalnya itu, mama bisa mengecek berapa pengeluarannya tiap bulan, sehingga bisa berhati-hati dalam membelanjakan uang gaji papa. Ide sederhana  dengan tujuan yg luar biasa&#8230;^_^</p>
<p>Mencatat pengeluaran tiap hari seperti yg biasa dilakukan mamaku itu ternyata membutuhkan disiplin tersendiri. Pada awal menikah, aku masih rajin tuh mencatat pengeluaran keluarga kami per hari…tapi lama-lama kok males ya…belum lagi kalau waktu sudah banyak tersita untuk urusan anak (yg waktu itu masih bayi), wah…jadi makin banyak pula alasan untuk lupa mencatat dalam journal dan akhirnya kebiasaan baik itu pun “tenggelam” dalam akibat rutinitas lain dan kurangnya disiplinku…hehehehe…</p>
<p>Hal kedua yg pada awalnya kutiru dari mama dalam mengelola keuangan keluarga adalah membuat “<strong>Amplop Kebutuhan</strong>”. Setiap kali menerima uang gaji dari papa, mama akan memasukkan uang gaji tersebut ke dalam amplop-amplop yg diberi keterangan dibagian luar sesuai peruntukannya, misal : belanja harian, uang sekolah anak-anak, dst. Pada awal menikah sih, teknik ini sempat jadi andalanku juga dalam mengelola keuangan rumah tangga, tapi lagi-lagi masalah disiplin yg kurang niy…hehehehe…akhirnya juga gak bisa berlanjut sampai sekarang…^_^</p>
<p>Hal ketiga yg kucontoh dari mama adalah <strong>menabung untuk pendidikan anak</strong>. Kami bukan keluarga kaya, namun juga tidak kekurangan, ya…pokoknya pas lah…gaji papa cukup, buat hidup kami sekeluarga. Tetapi, kalau sudah punya anak yg lagi kuliah di perguruan tinggi tentunya bakal memakan biaya besar juga tho…rupanya hal ini sudah disadari kedua orangtuaku sejak kami masih kecil dulu. Ketika itu orangtuaku memilih untuk ikut asuransi dengan inisial BP (tulis inisialnya aja, karena gak bermaksud berpromosi..hehehehe).</p>
<p>Sebenarnya aku juga gak begitu<em> ngeh</em> soal perhitungan Asuransi ini, aku yakin kedua orantuaku dulu juga sama. Pemikiran mereka sederhana saja, tiap bulan menyisihkan sebagian uang ditabung buat kepentingan anak-anaknya kelak, dan nanti ketika kami anak-anaknya akan kuliah, uang tersebut sudah mencukupi, jadi gak perlu pusing lagi deh nyari biaya kuliah.</p>
<p>Pemikiran sederhana itu ternyata terbukti. Ketika itu, orangtuaku mengikuti Asuransi BP dengan system index istilahnya, jadi mengikuti nilai tukar rupiah ke dollar (kalau gak salah, ya&#8230;). Tahun 1998 aku lulus SMA dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Di tahun itu pulalah maka sesuai dengan polis asuransi, waktunya bagi dana asuransiku untuk cair.  Namun, di luar perkiraan kami semua, di tahun yang sama terjadi kejadian “luar biasa”, dimana tahun itu terjadi gejolak reformasi di Indonesia sekaligus krisis moneter luar biasa yang mengakibatkan terpuruknya nilai mata uang kita (rupiah) terhadap dollarnya <em>wong</em> Amerika.  Ketika rupiah mencapai Rp. 11.000 per Dollar-nya (kalau gak salah inget ya&#8230;), asuransi pendidikanku pun cair dan akibat perubahan nilai tukar yg drastis itu pula, maka dana asuransiku yang cair ternyata berjumlah lebih dari dua kali lipat dari yang seharusnya kami terima bila rupiah berada dalam kisaran normal. Aku masih ingat, saat itu papa ditugaskan di Kabanjahe (Sumut), dan karena masih liburan sekolah (kelulusan SMA), aku pun berlibur ke sana..dan di sana pulalah setiap hari kami sekeluarga <em>mantengin</em> berita tentang kurs rupiah terhadap dollar, yang tayang setiap menitnya. Perasaan kami campur aduk waktu itu, antara kecemasan luar biasa melihat ekonomi negara yang begitu cepat porak poranda, namun juga rasa tak percaya dan syukur melihat perubahan nilai tukar dilayar kaca tiap menitnya itu, karena dana asuransiku yg akan cair tergantung nilai tukar itu. (Setelah krisis ekonomi 1998, asuransi BP itu kemudian meniadakan model asuransi metode indeks, seperti yg telah diikuti ortuku itu, mungkin mereka juga belajar dari pengalaman saat itu ya..^_^)</p>
<p>Mendapatkan anugerah di tengah badai macam itu, tentu saja membuat kami sekeluarga mengucap syukur kepada Tuhan. Bahwa di tengah kesulitan ekonomi Negara yg pelik, ternyata kami sekeluarga mendapat berkat luar biasa dan tak terbayangkan saat itu (tidak ada maksud berbahagia di atas penderitaan orang lain lho&#8230;hanya menucap syukur atas apa yg kami peroleh di tengah kesulitan hidup yg melanda). Dan karena aku masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yg tidak begitu memakan biaya banyak, akhirnya uang asuransi itupun dipergunakan adikku pada tahun berikutnya untuk masuk kuliah di perguruan tinggi Swasta, yg lumayan memakan biaya besar. Bagi kami sekeluarga hal itu rasanya mukjizat, bayangkan saja bila kedua orangtuaku tidak menabung di Asuransi pendidikan ketika kami masih kecil dulu, gak tahu deh bagaimana kelimpungannya mereka ketika harus mendapatkan biaya untuk kuliah kami.</p>
<p>Belajar dari pengalaman kedua orangtuaku itu, maka aku dan suami pun mengambil Asuransi untuk kedua buah hati kami. Sedikit-sedikit, tiap bulan harus menyisihkan sebagian gaji buat pendidikan mereka kelak. Menurutku sampai saat ini itulah langkah paling aman, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi di masa datang. Dengan menabung sedikit demi sedikit seperti itu minimal kita berusaha melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.</p>
<p>Memasuki tahun 2010 ini, tentu masing-masing dari kita mengharapkan yg terbaik buat tahun mendatang. Buatku pribadi, resolusiku mengenai keuangan keluarga, hanya satu : mulai belajar lagi untuk disiplin mengatur pengeluarannya…(duuuhh…kayaknya susyeeeh bener niy…tapi, harus bisaaaaa!!!! Ayo…kamu bisaaaaa….!!!) ^_^</p>
<p>Selamat Tahun Baru 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/belajar-dari-pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

