<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kelolauang.com &#187; perencaan keuangan keluarga</title>
	<atom:link href="http://kelolauang.com/category/perencaan-keuangan-keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kelolauang.com</link>
	<description>Kelola Uangmu Gapai Citamu</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Nov 2011 13:49:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.5</generator>
		<item>
		<title>Perencanaan Keuangan : Sebuah perjalanan, bukan tujuan</title>
		<link>http://kelolauang.com/2011/11/perencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2011/11/perencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 13:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wongkar</dc:creator>
				<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Masih hari Rabu tapi bagi sebagian kita bayangan weekend sudah mulai mengganggu pikiran. Sudah berencana pergi kemana ? Pantai ? Gunung ? Mall ? Kemanapun itu yang penting tujuannya satu, tempat yang bisa dinikmati, baik perjalanannya maupun tujuannya. Bagaimana kalau ke Bandung ? Good idea ! Pakai apa kesana ? Mau langsung tiba atau mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2011%2F11%2Fperencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2011%2F11%2Fperencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Masih hari Rabu tapi bagi sebagian kita bayangan weekend sudah mulai mengganggu pikiran. Sudah berencana pergi kemana ? Pantai ? Gunung ? Mall ? Kemanapun itu yang penting tujuannya satu, tempat yang bisa dinikmati, baik perjalanannya maupun tujuannya.</p>
<blockquote><p>Bagaimana kalau ke Bandung ? Good idea !<br />
Pakai apa kesana ?<br />
Mau langsung tiba atau mau mampir dulu di puncak ?<br />
Kalau lewat puncak, macet ngga ya ?<br />
Jam berapa harus berangkat agar tidak terjebak macet ?</p></blockquote>
<p>Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi merupakan rencana perjalanan yang sedang kita susun. Mudah-mudahan dengan rencana ini, perjalanan Jakarta – Bandung menjadi bisa lebih dinikmati dan yang lebih penting lagi tidak salah jalan.</p>
<p>Financial Planning atau perencanaan keuangan adalah suatu proses, sama seperti perjalanan dari Jakarta menuju Bandung tadi. Proses perencanaan keuangan dilakukan untuk mencapai tujuan keuangan. Baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Membeli mobil, jalan-jalan ke luar negeri adalah contoh tujuan jangka pendek. Sementara untuk jangka panjang biasanya berhubungan dengan persiapan sekolah anak dan persiapan masa pensiun.</p>
<p><em><strong>Ketahui tujuan keuangan</strong></em></p>
<p>Saat ditanya apa yang menjadi tujuan keuangannya beberapa dari kita dengan meyakinkan menjawab <em>mencapai financial freedom !</em> Sangat solid dan fantastis. Betul financial freedom adalah tujuan keuangan, tapi berapa dan apa saja yang kita butuhkan untuk mencapai itu ?  Tanpa angka yang pasti, ibarat pergi berlibur tanpa tahu tujuannya dan kapan liburannya.</p>
<p><em><strong>Tetapkan batas waktu</strong></em></p>
<p>Selanjutnya adalah menentukan kapan ingin tujuan tersebut kita capai. Untuk proses yang berhubungan dengan sekolah anak atau persiapan masa pensiun, waktunya biasanya sudah fixed tergantung umur kita. Untuk mobil atau rumah, sangat fleksibel tergantung dalamnya kantong yang kita punya. Satu hal penting yang harus diingat dalam menentukan batas waktu : <em>realistis</em>. Realistis yang optimis ya, karena bagi sebagian orang mujizat juga realistis.</p>
<p><em><strong>Ketahui posisi sekarang</strong></em></p>
<p>Sadar dengan posisi saat ini akan sangat membantu kita dalam menetapkan batas waktu yang realistis. Besar pendapatan dan pengeluaran akan menentukan seberapa cepat kita sampai di tujuan keuangan yang diinginkan. Apabila dari metode menyimpan uang saat ini diketahui butuh waktu yang terlalu panjang untuk mencapai tujuan keuangan, tentu saja harus dilakukan beberapa penyesuaian.</p>
<p><em><strong> Tentukan alat untuk mencapai tujuan</strong></em></p>
<p>Untuk berlibur sekeluarga dari Jakarta ke Bandung tentu saja tidak realistis jika kita memilih sepeda sebagai metode transportasinya. Setelah mengetahui tujuan keuangan, kapan target pencapaiannya, dan bagaimana kemampuan kita sekarang, tahap selanjutnya adalah menentukan instrumen atau media apa yang tersedia di pasaran untuk kita gunakan mencapai tujuan keuangan kita. Pasar menyediakan banyak pilihan. Tetapi sesuai dengan prinsip <em>high risk high return</em>, tidak semua produk cocok untuk semua orang. Kenali kemampuan kita untuk mentoleransi resiko, sehingga saat ekonomi sedang melemah, kita tidak perlu ikut-ikutan lesu dan lemas.</p>
<p>Tujuan keuangan kita sangat mungkin lebih dari satu, dua bahkan lima. Idealnya semua tujuan tersebut bisa dipenuhi dalam satu tepukan. Namun sayangnya kenyataan sering tidak seindah gambaran diatas kertas. Keterbatasan dari pendapatan kita menyebabkan harus ditentukan skala prioritas, kebutuhan yang mana mutlak harus didahulukan dan yang mana bisa menunggu untuk sementara waktu.</p>
<p>Tujuan keuangan apapun yang menjadi prioritas utama, perencanaan keuangan tetap harus dilakukan. Mulailah dengan sesuatu yang terjangkau, lebih dini lebih baik. Seiring waktu, perubahan keadaan, dan meningkatnya kemampuan, lakukanlah <em>review</em> terhadap proses perjalanan kita. Pastikan bahwa kita masih di jalur yang tepat menuju tujuan keuangan kita.</p>
<p><em>Plan early, live comfortably !</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2011/11/perencanaan-keuangan-sebuah-perjalanan-bukan-tujuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dana Pensiun: Now or Never</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/08/dana-pensiun-now-or-never/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/08/dana-pensiun-now-or-never/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 01:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>budipru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[dana pensiun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Anda mungkin sudah mengetahui teori "sedikit demi sedikit lambat laun menjadi bukit", Anda pun sudah berpendidikan tinggi, namun semuanya kalah berarti dibanding tindakan sesegera mungkin menabung demi masa depan; saat ini juga ..... Atau Anda akan menjadi tokoh seperti guru saya di atas?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F08%2Fdana-pensiun-now-or-never%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F08%2Fdana-pensiun-now-or-never%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/koin1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-48" title="koin" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/koin1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Minggu lalu saya sedang antusias membuat kegiatan bagi almamater sekolah saya : makan malam bersama guru dan pembagian tanda kasih berupa netbook+kaos+buku; membuat kegiatan donor darah; menyelenggarakan seminar; semuanya sekaligus jalan wisata keluarga dan ultah istri tercinta; keliling jakarta-jawa tengah dalam 5 hari, pfuih&#8230; sungguh hari-hari yg melelahkan.</p>
<p>Sebenarnya raga ini sudah tdk mampu bergerak kala ada email yg mengugah kesadaran bahwa ada salah seorang guru yg tdk berdaya mempersiapkan pensiunnya. Namun ada energi yg memampukan saya u/ menghubungi guru saya tersebut.<br />
<span id="more-127"></span><br />
200 buku karangan beliau sudah seminggu saya bantu pasarkan, tentunya dengan teknik &#8220;palak&#8217;s way : social network with emotional pressure&#8221; (penjelasan teknik pemasaran ini akan saya paparkan kesempatan mendatang). Dengan harga normal Rp 20.000,-/buku; saya bisa menjual Rp 50.000,-/buku bahkan lebih!! 70 buku terkumpul Rp 6 juta! Mudah2an mampu terjual 100-125 buku ya &#8230;..</p>
<p>Tapi saya menyoroti secara mendalam masalah pensiun guru saya tersebut. &#8220;Mestinya elu yg kelola dana pensiun para pamong, Sep&#8221;, demikian salah satu sms dari kakak kelas yg membeli buku tersebut.</p>
<p>Pikiran saya menerawang ke 10-15 tahun lalu&#8230;.&#8221;Ah..seandainya beliau bisa menyisihkan secara disiplin Rp 50-100ribu/bln&#8230;niscaya sudah ada Rp 20-an jutan yg bisa beliau peroleh untuk renovasi rumah tanpa harus membanting tulang di hari dgn menjual buku&#8221;&#8230;.</p>
<p>Ternyata menyisihkan sebagian penghasilan tetap menjadi masalah bagi orang dengan pendidikan tinggi (guru saya ini S2 dgn wawasan yg luas krn telah menerbitkan 40-an buku).</p>
<p>Sungguh, mempersiapkan masa pensiun tdk bisa ditunda! Now atau Never &#8230;&#8230;..</p>
<p>Anda mungkin sudah mengetahui teori &#8220;sedikit demi sedikit lambat laun menjadi bukit&#8221;, Anda pun sudah berpendidikan tinggi, namun semuanya kalah berarti dibanding tindakan sesegera mungkin menabung demi masa depan; saat ini juga &#8230;.. Atau Anda akan menjadi tokoh seperti guru saya di atas?</p>
<p>Yosep Sudarso<br />
Praktisi asuransi&amp;<a href="http://www.dana-pensiun.com">dana pensiun</a><br />
<a href="mailto:yosep@dana-pensiun.com">yosep@dana-pensiun.com</a><br />
0815-9407511</p>
<p>(Sharing kisah nyata : 16-24 Juli 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/08/dana-pensiun-now-or-never/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DANA PENSIUN vs ASURANSI PENSIUN</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/02/dana-pensiun-vs-asuransi-pensiun/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/02/dana-pensiun-vs-asuransi-pensiun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 12:24:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yosepsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pensiun]]></category>
		<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[asuransi]]></category>
		<category><![CDATA[merencanakan keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa kesempatan, saya masih sering menemukan calon nasabah yang bingung apa persamaan dan perbedaan dana pensiun dengan asuransi pensiun. Apakah keduanya produk yang sama dengan label yang berbeda atau memang keduanya produk yang berbeda? Keduanya PRODUK BERBEDA namun saling melengkapi. 1. DANA PENSIUN Merupakan produk Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) atau Dana Pensiun Lembaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F02%2Fdana-pensiun-vs-asuransi-pensiun%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F02%2Fdana-pensiun-vs-asuransi-pensiun%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/02/facingfuture.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-105" title="facingfuture" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/02/facingfuture-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Dalam beberapa kesempatan, saya masih sering menemukan calon nasabah  yang bingung apa persamaan dan perbedaan dana pensiun dengan asuransi  pensiun. Apakah keduanya produk yang sama dengan label yang berbeda atau  memang keduanya produk yang berbeda?</p>
<p>Keduanya PRODUK BERBEDA namun saling melengkapi.<br />
<span id="more-107"></span><br />
1. DANA PENSIUN<br />
Merupakan produk Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) atau Dana Pensiun  Lembaga Keuangan (DPLK). Produk ini dapat dipasarkan internal khusus  perusahaan sendiri atau dipasarkan ke luar. Beberapa perusahaan  mengikutkan karyawannya dalam program dana pensiun yang diselenggarakan  oleh DPLK namun ada pula yang dikelola sendiri. Beberapa contoh DPLK  adalah : DPLK Manulife, Winterthur Life, Bringinlife, Allianz, dan lain  sebagainya. Sedangkan beberapa contoh DPPK adalah : DPPK Garuda,  Samudera Indonesia, Pertamina, INCO dsb. (Detail nama DPPK dan DPLK  dapat dilihat di <a href="http://www.dana-pensiun.com/" target="_blank">www.Dana-Pensiun.com</a>).<br />
Di tengah era bancassurance ini; produk DPLK pun bisa dipasarkan melalui  pihak perbankan sebagai contoh : DPLK BRI dipasarkan di counter Bank  BRI, Produk &#8220;Simponi&#8221; DPLK BNI dipasarkan sebagai produk Bank BNI, dan  sebagainya.</p>
<p>Produk dana pensiun dapat disederhanakan sebagai produk yang dimengerti  masyarakat umum &#8220;tabungan bank&#8221;. Dana Pensiun memiliki karakteristik :<br />
1. Hasil Investasi mengikuti hasil kelolaan dana yang dilakukan oleh  manager investasi dengan beragam pilihan penempatan investasi. Rata-rata  DPLK/DPLK mampu memberikan asumsi pertumbuhan dana sebesar 10 &#8211; 22%.<br />
2. Hasil investasi dikenakan beberapa ragam biaya tergantung DPLK/DPPK.  Beberapa biaya yang umum adalah : biaya pendaftaran, biaya pengelolaan,  biaya penarikan, biaya pemindahan investasi dan jenis lainnya.<br />
3. Hasil investasi akan dikenakan pajak progresif sesuai UU No 11/1992  mengenai Dana Pensiun.<br />
4. Peserta/nasabah akan mendapatkan laporan hasil kelolaan dana dan  iuran pokok melalui berbagai pilihan cara : korespondensi surat, online  internet, hotline telepon dan cara-cara lain.</p>
<p>2. ASURANSI PENSIUN<br />
Merupakan produk dari asuransi, berkembang pesat terutama untuk memenuhi  UU No 13/2002 mengenai Perburuhan. Beberapa perusahaan asuransi menamai  produk ini sebagai Jaminan Hari Tua (JHT) seperti PT. Jamsostek; atau  Tabungan Hari Tua (THT)/Kesejahteraan Hari Tua (KHT) di beberapa  perusahaan asuransi lainnya.</p>
<p>Produk asuransi pensiun terutama dimaksudkan untuk :<br />
1). Memenuhi nilai pesangon karyawan apabila terjadi PHK, misal karyawan  bekerja sekian tahun maka akan mendapat Uang Pesangon sekian kali gaji  terakhir. Penekanan pada produk asuransi pensiun adalah adanya HASIL  PASTI sesuai yg diamanatkan UU.</p>
<p>2). Memberikan dana apabila terjadi resiko yakni meninggal dan cacat.   Karyawan tersebut akan mendapatkan santunan kematian bagi ahli waris  atau santunan cacat.</p>
<p>Pada poin kedua inilah yang menonjol perbedaan Dana Pensiun dengan  Asuransi Pensiun selain HASIL PASTI pada asuransi pensiun.</p>
<p>Kiranya pengantar awal ini mampu membuka wacana pembaca akan kehadiran  kedua produk yang berbeda namun saling melengkapi.</p>
<p>Yosep Sudarso A.A, S.Minute<br />
AAK, AAAIJ<br />
Praktisi Managemen Resiko, Asuransi dan Dana Pensiun<br />
Yosep@Dana-Pensiun.com<br />
Yosepsa@Kelolauang.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/02/dana-pensiun-vs-asuransi-pensiun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Financial Planning (Perencanaan Keuangan) di Indonesia</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/perkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/perkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 11:44:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wary</dc:creator>
				<category><![CDATA[kelolauang.com]]></category>
		<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan investasi]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[reksa dana]]></category>
		<category><![CDATA[unit trust]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Saya tidak tau persis, bagaimana perkembangan dunia financial planning (perencanaan keuangan) di tanah air. Namun yang saya alami dan amati dan rasakan, di Singapore, perkembangannya cukup pesat. Terlihat dengan majunya industri ini, tidak hanya dari para pemain besar yang berawal dari bisnis asuransi (prudential, AIA, AXA, Manulife, Great Eastern, dll), tetapi juga mulai muncul indepedent [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fperkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fperkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1193021_21321801.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-20" title="1193021_21321801" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1193021_21321801-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Saya tidak tau persis, bagaimana perkembangan dunia <em>financial planning </em>(perencanaan keuangan) di tanah air. Namun yang saya alami dan amati dan rasakan, di Singapore, perkembangannya cukup pesat. Terlihat dengan majunya industri ini, tidak hanya dari para pemain besar yang berawal dari bisnis asuransi (prudential, AIA, AXA, Manulife, Great Eastern, dll), tetapi juga mulai muncul <em>indepedent financial planner</em> institusi yang memberikan jasa perencanaan keuangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa yang membedakan <em>independent financial planner</em> dengan <em>financial planner</em> yang mewakili nama perusahaan besar tersebut? Yang jelas, <em>independent financial planner</em> memberikan jasa perencanaan keuangan dengan memakai berbagai instumen / alat perencanaan keuangan dari berbagai institusi. Sebut saja, dalam hal perencanaan investasi misalnya, khususnya dalam hal ini dengan memakai <em>unit trust</em> (reksa dana) sebagai instrumennya, <em>independent financial planner</em> akan mempunyai pilihan lebih banyak <em>unit trust</em> yang bisa di tawarkan atau di sarankan kepada calon klien nya sebagai salah satu instrumen perencanaan investasi. Bahkan instrumen tersebut tidak hanya berasal dari perusahaan perusahaan besar seperti yang saya sebut di atas, tetapi juga dari berbagai <em>fund house</em> yang menyediakan instrumen perencanaan investasi secara khusus. Institusi yang saya maksud adalah seperti: Aberdeen Asset Management, Fidelity, Schroders, Lion Global, Templeton, dsb.<span id="more-98"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut salah satu informasi yang saya dapat dari praktisi <em>financial planner </em>di Singapore, memang demikian perkembangan <em>financial planning</em> ke arah masa datang. Akan muncul semakin banyak <em>independent financial planner</em> yang akan menawarkan jasa perencanaan keuangan dengan menggunakan instrumen dari berbagai institusi. Dengan demikian, klien mempunyai pilihan lebih banyak dalam menentukan perencanaan keuangan yang ia inginkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping itu saya mengamati, aksesibilitas terhadap institusi <em>independent</em> juga semakin mudah. Yang saya maksudkan adalah akses kepada <em>independent fund house</em> seperti yang saya sebut di atas. Bahkan ada juga independent fund house yang khusus menyediakan jasa investasi di unit trust dengan memberikan pilihan dari unit trust dari berbagai fund house. Beberapa yang cukup besar dan eksis di Singapore adalah: <a href="http://www.fundsupermart.com">www.fundsupermart.com</a>, <a href="http://www.dollardex.com">www.dollardex</a>.com dan <a href="http://www.phillipcapital.com/">www.phillipcapital.com</a>. Ketiga independent fund house tersebut cukup punya peranan yang sangat besar dalam mengembangkan perencanaan investasi di dunia unit trust.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu bagaimana perkembangan di tanah air?</p>
<p style="text-align: justify;">Selama belum banyak <em>independent financial planner </em>atau <em>fund house</em> seperti yang saya sebut di atas, informasi informasi seperti yang di tuangkan dalam website ini akan menjadi informasi yang sangat berguna bagi setiap individu yang tidak mempunyai banyak pilihan, dan wawasan dalam perencaan keuangan. Tentu saja, informasi dan komunikasi 2 arah dari sumber dan pengguna akan membuat dunia perencanaan keuangan ini akan menjadi lebih berkembang dengan pesat. Setiap kali ada pertanyaan dari para pembaca, akan berkembang menjadi pengetahuan yang akan di nikmati oleh para pembaca pembaca berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam Cerdas Kelola Uang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/perkembangan-financial-planning-perencanaan-keuangan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>8 Kesalahan Umum dalam Ber-Investasi Properti</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/8-kesalahan-umum-dalam-ber-investasi-properti/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/8-kesalahan-umum-dalam-ber-investasi-properti/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 14:43:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Investasi Properti]]></category>
		<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[investasi]]></category>
		<category><![CDATA[properti]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Pada artikel sebelumnya, telah di bicarakan bagaimana cara cerdas mengelola uang dengan salah satunya adalah dengan berinvestasi di properti. Juga dalam artikel berikutnya, dibahas tentang 2 jenis investasi di properti, berinvestasi untuk cash flow dan berinvestasi untuk capital gain. Nah, sebelum anda bener bener memulai, karena mungkin saking antusiasnya, ada baiknya baca yang satu ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2F8-kesalahan-umum-dalam-ber-investasi-properti%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2F8-kesalahan-umum-dalam-ber-investasi-properti%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/Choosing-Investment-House1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-89" title="Choosing Investment House" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/Choosing-Investment-House1.jpg" alt="" width="124" height="93" /></a>Pada artikel sebelumnya, telah di bicarakan <a href="http://kelolauang.com/2010/01/investasi-properti-cara-cerdas-mengelola-uang/">bagaimana cara cerdas mengelola uang dengan salah satunya adalah dengan berinvestasi di properti</a>. Juga dalam artikel berikutnya, dibahas tentang <a href="http://kelolauang.com/2010/01/2-tujuan-investasi-di-properti-cash-flow-dan-capital-appreciation/">2 jenis investasi di properti, berinvestasi untuk <em>cash flow</em> dan berinvestasi untuk <em>capital gain</em>.</a></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sebelum anda bener bener memulai, karena mungkin saking antusiasnya, ada baiknya baca yang satu ini dan pikirkan baik baik. Saya rangkumkan tips ini dari seseorang yang sudah bertahun tahun bergerak di bidang properti dan menjadi investor properti sampai saat ini di tambah dengan sedikit pengalaman pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-87"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">Berikut adalah 8 Kesalahan Umum dalam Berinvestasi Properti:</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>1. Tidak ada rencana tujuan yang jelas dan tertulis.</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini yang paling dari apapun yang kita lakukan, entah itu sekolah, kerja, usaha, investasi, dsb. Jikalau apa yang kita lakukan ini tujuan tidak begitu jelas, maka hasil yang akan di dapat juga tentunya tidak akan jelas. Maka di sarankan untuk memiliki suatu tujuan yang jelas dalam berinvestasi properti. Adalah perlu  dan baik untuk menuliskan tujuan itu dengan jelas sehingga mudah untuk diingat ingat. Misalnya, saya ingin punya kos kos an 2 buah dengan jumlah kamar 20 di tahun 2011. Atau juga misalanya, saya mau punya apartemen didaerah depok yang dekat dengan beberapa universitas yang bisa saya sewakan dan memberikan uang sewa sebesar 1.5 juta perbualn di tahuan 2011, dan seterusnya dan seterusnya, ini hanya contoh saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>2. Tidak mencari nasehat dari pakar properti atau investor properti yang sukses</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini keliatan sepele, mungkin kita akan bilang kan gampang, udah jelas jelas kok gimana caranya, tetapi kalau kita tidak mendapatkan masukan masukan dari pakarnya atau orang yang sudah suskes di bidangnya, maka kemungkinan besar kita akan melakukan kesalahan kesalahan yang semestinya bisa kita hindari. Contoh saja, dulu ketika saya belum belajar tentang investasi properti, saya kira membeli rumah itu pasti ga akan rugi asal bisa bayar angsuran bulannya. Namun setelah saya belajar, itu saja tidak cukup, apalagi kalau kita membeli karena keindahan rumahnya semata dan tidak melihat prospek kedepanya gimana, nah bisa bisa kita akan berhenti pada membayar angsuran per bulan sementara harga properti kok sepertinya bertumbuh sangat lambat, mau dijual juga peminatnya kok sepertinya tidak banyak alias susah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #3366ff;">3. Membeli rumah<em> </em>sebagai investasi properti yang tidak menghasilkan <em>cash flow</em> positif</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini persis yang saya alami pertama kali membeli rumah dan memang belum menghasilkan <em>cash flow</em> yang positif. Jadi ketimbang kita mendapatkan uang tiap bulannya, eh malahan kita masih harus membayar angsuran tiap bulannya. Memang seringkali, pertama kali kita membeli rumah biasanya memang bukan untuk investasi, namun jika pertama kali kita ingin membeli rumah untuk berinvestasi juga, maka sebaiknya memperhatikan bagaimana <em>cash flow</em>nya. Atau, jikalau <em>cash flow</em> bukan merupakan tujuan investasinya , karena memang mau di tempatin sendiri, maka <em>capital gain</em> merupakan hal yang perlu sangat di perhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>4. Membeli properti hanya sesuai keinginan anda dan bukan melihat keinginan calon pembeli atau penyewa di masa datang<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Harus hati hati di sini. Seringkali kita bilang akan membeli properti untuk investasi, namun akhirnya yang ternjadi adalah kita membeli sesuai dengan harapan pribadi, mau yang begini dan begitu dan tidak mempertimbangkan keinginan calon pembeli atau penyewa nanti. Seringkali kita hanya mementingkan design yang bagus, terpikat dengan interior yang wah, namun dari lokasi misalnya, properti ini sangat sulit bagi orang yang akan menyewa misalnya. Tentu saja hal ini akan mejadi sangat susah kalau kita akan menyewakan properti itu kepada calon penyewa kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>5. Membeli properti yang murah tetapi di lokasi yang salah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu prinsip investasi properti adalah <span style="text-decoration: underline;">untung ketika membeli, bukan untung ketika menjual</span>. Ini artinya ketika kita membeli sebenernya kita membeli di bawah harga pasar sehingga ketika kita akan menjual dengan harga pasar saja kita akan mendapat untungnya. Tetapi, jangan kita terjebak pada harga saja, jikalau memang lokasi properti tersebut sangatlah tidak bagus. Hal ini akan membuat sulit ketika nanti akan menjual properti tersebut meskipun harga di bawah harga pasar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #3366ff;">6. Membeli rumah impian dan merenovasinya secara berlebihan ketika anda menikah</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya bagi orang yang pertama beli rumah penginnya tentu yang semenarik mungkin, hingga kadang kadang renovasi di lakukan dengan gila gila an. Pokoknya demi kepuasan sementara karena memang ini baru pertama kali membeli rumah. Namun yang terjadi setelah itu, akan tiba pada giliran untuk membayar angsuran rumah yang tidak kecil, dan itu rupanya cukup membebani. Apalagi kalau itu dengan kenyataan bahwa rumahnya tidak berada pada lokasi yang bagus dan di beli dengan harga yang bagus, maka jelas rumah itu akan sangat sulit menjadi sebuah investasi.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>7. Membeli rumah di luar kemampuan keuangan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saking semangatnya untuk memiliki rumah yang bagus dan mewah, akhirnya perhitungan kemampuan tidak di pertimbangkan. Hasilnya tentu akan memiliki komitmen keuangan yang melebihi kemampuan keuangannya. Baik pada awalnya di pertimbangkan kemampuan keuangannya. Termasuk di sini kita harus mempertimbangkan besarnya biaya biaya lain selain uang muka, seperti biaya pajak, balik nama, notaris, asuransi, angsuran bulanan dengan bunga yang kemungkinana naik secara drastis, biaya operasional tiap bulannya termasuk listrik air dan perawatan, juga termasuk renovasi yang di perlukan pada tahap awal.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>8. Anda masih membayar cicilan uang rumah anda sampai anda pensiun</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tadinya berfikir untuk membeli rumah dengan biaya awal sekecil kecilnya. Namun ternyata cicilan yang di ambil begitu sangat lama sehingga selama masa pensiun pun tetap harus membayar cicilan rumah itu. Jika rumah ini hanya di tempatin sendiri, tentu ini akan menjadi beban sampai masa pensiun. Kecuali memang rumah ini di sewakan dan memberikan <em>cash flow </em>yang positif, sehingga cicilan sampai masa pensiun pun tidak masalah tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, coba cermati dan pertimbangkan hal hal diatas sebelum kita mengambil keputusan untuk berinvestasi di properti, supaya kesalahan kesalahan umum di atas jika perlu tidak usah terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk tips investasi properti lain, silahkan kunjungi <a href="http://www.propertidiskon.com">investasi property</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam Cerdas Kelola Uang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/8-kesalahan-umum-dalam-ber-investasi-properti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menabung (Demi) Masa Depan</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/menabung-demi-masa-depan/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/menabung-demi-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 01:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yosepsa</dc:creator>
				<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[menabung]]></category>
		<category><![CDATA[merencanakan keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[“Sebenarnya elu jualan ini dalam rangka apa sih, bro?” tanyaku lewat telepon pada sobat yang dalam beberapa waktu belakangan ini ”aktif” menjual apapun termasuk membuat online shop di dunia maya dan jualan senjata mainan yang menjadi hobinya: airsoftgun. “Ini hanya buat elu aja ya bro ….. gue butuh tambahan uang buat uang pangkal anakku yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fmenabung-demi-masa-depan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fmenabung-demi-masa-depan%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1105756_96956529.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-15" title="Celengan" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1105756_96956529-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>“Sebenarnya elu jualan ini dalam rangka apa sih, bro?” tanyaku lewat telepon pada sobat yang dalam beberapa waktu belakangan ini ”aktif” menjual apapun termasuk membuat <em>online shop</em> di dunia maya dan jualan senjata mainan yang menjadi hobinya: <em>airsoftgun</em>.</p>
<p>“Ini hanya buat elu aja ya bro ….. gue butuh tambahan uang buat uang pangkal anakku yang akan masuk sekolah dasar sebesar delapan juta rupiah. Gue butuh sebelum tanggal 23 Januari”, ujarnya lirih di ujung telepon.</p>
<p>Gedubrakkkk ……<span id="more-71"></span></p>
<p>Sebenarnya aku pengen nyeletuk menasehati sobatku itu namun memahami perasaan seorang ayah yang akan melakukan apapun demi kabahagiaan anaknya, aku membatalkan memberikan nasehat. Aku segera menghubungi seorang sobat yang juga sealumni sekolah yang selalu mempunyai dana cadangan dalam hidupnya. Singkat cerita: sobatku yang membutuhkan dana tersebut dibantu dana oleh sobatku yang lain.</p>
<p>Hidup ini memang aneh ya &#8230;&#8230; sobatku yang hobi <em>airsoftgun</em> tersebut di atas bukanlah karyawan biasa di perusahaan biasa pula. Sobatku ini lulusan beasiswa S2 dari luar negeri yang bekerja di perusahaan asing dengan level manager meski digaji dalam mata uang rupiah. Dengan memperhatikan lokasi rumahnya yang berada di kawasan perumahan elit, dugaan awalku adalah TIDAKLAH MUNGKIN SELEVEL TEMANKU INI BERMASALAH DALAM PERENCANAAN KEUANGAN.</p>
<p>Tapi ternyata memang, perencanaan keuangan utamanya keuangan keluarga bukanlah hal mudah untuk diterapkan.</p>
<p>Aku teringat ajakan sobatku tersebut beberapa bulan yang lalu untuk bermain <em>airsoftgun</em>. Aku menapiknya ringan : ”Saat-saat ini aku lagi nggak punya hobi yang berhubungan dengan buang uang, bro”. Sobatku menjawab :” Kan elu bakalan dapat relasi baru yang bisa elu tawarin produk elu”. Benar juga pemikiran sobatku ini tapi aku menjawab; ”Saat ini aku belum punya dana <em>entertain</em>, aku masih fokus mewujudkan dana cadangan keluarga. Kalaupun ada entertaint, aku coba usahakan acara sosial yang minim <em>cost</em> namun mempunyai manfaat pergaulan yang baik.  Apa nggak lebih baik dana main <em>airsoftgun</em>-mu itu dikurangi dari yang sebulan 3x menjadi 1x trus dana yang tadinya buat main <em>airsoft gun</em>-mu ini ditabung buat pendidikan anakmu?”.</p>
<p>Pertanyaan yang di kemudian hari terjawab &#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Mungkin obrolan di atas adalah khas obrolan manager di Jakarta atau di tempat lain yang membutuhkan relasi yang luas dalam mengembangkan bisnis dan pekerjaannya. Resiko pekerjaan, mungkin itu sebagian orang lain mengatakan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan humas, pemasaran, marketing dan komunikasi; membutuhkan biaya relasi dengan orang lain.</p>
<p>Saya pun membuka kembali ingatan akan adegium : PENGHASILAN/GAJI BESAR SEJAJAR DENGAN PENGELUARAN YANG BESAR. Kata orang-orang ini efek dari perubahan gaya hidup. Yang tadinya asisten manager masih mau makan di kantin kantor di basement, nah begitu naik jabatan jadi manager harus sering makan di restoran Jepang/Korea di hotel berbintang dengan biaya yang sangat mahal.</p>
<p>Terkadang saya merenung, apa mesti begitu ya .. apa memang jadi direktur/manager tidak layak lagi makan di sembarang tempat demi PENCITRAAN DIRI? Kalau begitu beruntunglah saya yang belum termasuk golongan level seperti itu. Saya masih bisa menjadi diri saya sendiri yang bisa makan di kaki lima sampai di restaurant ternama tanpa mesti risih dengan pandangan orang sekitar. Saya nyaman dengan keadaan saya yang menjadi diri saya ini. Saya memaksakan diri untuk dapat menabung secara rutin berapapun penghasilan yang saya dan istri punyai. Ini disebabkan situasi yang kami sebabkan sendiri mengingat kami mempunyai beberapa instrumen keuangan yang ”mewajibkan” kami menabung rutin baik bagi pendidikan putri kami maupun persiapan hari tua dan pemeliharaan kesehatan pasca pensiun kami. Di luar instrumen keuangan ini pun kami mencoba menabung untuk mempunyai DANA CADANGAN KELUARGA minimal 3X pengeluaran bulanan kami. Puji Tuhan, Dana Cadangan tersebut sudah kami miliki akhir tahun lalu. Sehingga sekarang kami fokus untuk meraih impian kami tanpa perlu merasa was-was bahkan mengalami permasalahan seperti yang dialami sobatku tersebut.</p>
<p>Saya menyadari bahwa menabung bukanlah perkara BERAPA BESAR PENGHASILAN/GAJI yang kita punya. Menabung adalah keinginan/komitmen diri untuk menyisihkan sebagian dari apa yang kita terima ke dalam suatu instrumen keuangan yang secara sadar kita pilih : Perbankan (Tabungan-deposito); Asuransi atau reksadana dan bursa (saham atau komoditas); bahkan investasi real seperti emas dan tanah/properti.</p>
<p>Menabung haruslah menjadi GAYA HIDUP semua orang yang ingin menyiapkan masa depan. Menabung sendiri berarti menyicil bagi Masa Depan yang kita rencanakan.  MENABUNG DEMI MASA DEPAN berarti kita sudah MENABUNG MASA DEPAN yang siap kita wujudkan. Kita mesti lebih bangga telah mempunyai tabungan daripada bergaya dengan semua barang konsumtif yang semestinya bisa kita tunda peruntukannya.</p>
<p>Kita tidak perlu harus bergelar S2 atau S3 atau bekerja di perusahaan yang bonafide atau mempunyai jabatan pekerjaan yang hebat untuk mulai menabung. Menabung adalah GAIRAH HIDUP bagi semua orang yang  ingin mempunyai masa depan. Maka mulailah menabung, jangan ditunda. Menabunglah sekarang juga! Cobalah membiasakan diri menyisihkan secara rutin penghasilan Anda dalam pilihan instrumen keuangan yang Anda pahami.</p>
<p>Selamat mempunyai GAYA HIDUP dan GAIRAH HIDUP : MENABUNG MASA DEPAN !</p>
<p>Yosep Sudarso A.A; S.Mn, AAK, AAAIJ<br />
Praktisi Industri Keuangan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/menabung-demi-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rencana Keuangan, Rencana Masa Depan</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/rencana-keuangan-rencana-masa-depan/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/rencana-keuangan-rencana-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 06:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>musafirmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[If you would be wealthy, think of saving as well as getting. (Benjamin Franklin, 1706-1790) SUATU SAAT, Aldi mau berpergian nonton pertandingan Formula1 di Malaysia bersama temannya sambil sekalian liburan beberapa hari di sana. Maklum, Aldi adalah seorang maniak pertandingan balap kelas dunia ini. Sudah lama, ia memimpikan melihat langsung bagaimana pembalap andalannya meliuk-liuk di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Frencana-keuangan-rencana-masa-depan%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Frencana-keuangan-rencana-masa-depan%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: right;"><em>If you would be wealthy, think of saving as well as getting.</em></p>
<p style="text-align: right;">(Benjamin Franklin, 1706-1790)</p>
<p><img class="alignleft" title="saving" src="http://www.faqs.org/photo-dict/photofiles/list/2606/6185saving.jpg" alt="" width="183" height="153" />SUATU SAAT, Aldi mau berpergian nonton pertandingan Formula1 di Malaysia bersama temannya sambil sekalian liburan beberapa hari di sana. Maklum, Aldi adalah seorang maniak pertandingan balap kelas dunia ini. Sudah lama, ia memimpikan melihat langsung bagaimana pembalap andalannya meliuk-liuk di sirkuit. Tapi, pergi ke Malaysia bukanlah hal gampang—khususnya buat Aldi yang bukan dari keluarga kaya. Sudah setahun, ia menabung dengan menyisihkan uang sakunya.<span id="more-46"></span>Akhirnya, setelah dianggap cukup dengan segala urusan paspor dan sebagainya sudah usai, berangkatlah Aldi pada hari menjelang pertandingan. Terbanglah dia ke Negeri Jiran itu dengan segudang mimpinya. Di sana, ia tak hanya menonton pertandingan. Tapi, ia juga membeli aneka suvenir, dari miniatur mobil, kaos, sampai bendera. Belum oleh-oleh buat pacar dan keluarganya di Jakarta. Sampai akhirnya, ringgit yang ia punyai menipis. Aldi kewalahan saat membeli tiket pulang ke Jakarta. Uang yang ada di tangan tak mencukupi. Akhirnya, ia memberanikan diri meminjam temannya. Untung saja, temannya masih mempunyai uang berlebih. Bila tidak, mungkin Aldi harus sedikit ‘menderita’ di negeri orang.</p>
<p>Banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman Aldi itu. Salah satunya adalah pentingnya merencanakan keuangan. Karena tidak membuat rencana keuangan dengan baik dan tak disertai komitmen, Aldi mengalami nasib seperti di atas. Rencana keuangan terkait dengan banyak jenis kegiatan manusia. Bisa dengan kegiatan  pribadi, keluarga, pendidikan, perjalanan, dan sebagainya. Mengapa uang perlu dikelola?</p>
<p>Uang terkait erat dengan kegiatan manusia. Banyak—meski tak semua, kegiatan manusia bisa jalan bila disokong dengan dana. Rencana keuangan terkait dengan rencana kegiatan manusia di masa mendatang. Boleh disebut merencanakan keuangan sebagai bagian dari merencanakan masa depan.</p>
<p>Dulu, sewaktu saya mau menikah, paman saya menasihati untuk membuat perencanaan keuangan keluarga. Menurutnya, hidup berkeluarga bukan sekadar hidup saat ini. Tapi, juga masa mendatang di mana keluarga akan berkembang dengan kehadiran anak dan sebagainya. Sementara itu, kebutuhan keluarga semakin lama semakin berkembang—terkait dengan pendidikan anak, asuransi, dan sebagainya.</p>
<p>Saya tak bisa membayangkan betapa kacaunya hidup berkeluarga bila tidak ada rencana keuangan. Boleh jadi, tidak adanya rencana keuangan karena kita tidak punya rencana tentang masa depan. Padahal, waktu terus maju tak bisa diputar balik. Salah satu bentuk rencana keuangan adalah menabung. Mertua lelaki saya selalu bilang berapa pun besar gaji suami istri harus ada bagian sekecil apa pun yang disisihkan untuk tabungan. Tabungan ini tidak boleh diutak-atik sebelum waktunya.</p>
<p>Ada asumsi yang salah yang mengatakan bahwa rencana keuangan itu hanya berlaku bagi mereka yang berkantong tebal atau berpenghasilan besar. Seberapa pun penghasilan kita, sebaiknya rencana keuangan tetap dibuat. Mengelola keuangan  merupakan tanda seberapa bijaksana kita dalam memperlakukan uang. Mungkin sudah sifat manusia yang selalu merasa kekurangan meski penghasilannya naik. Dulu, sebelum nikah, saya selalu kehabisan uang di ujung bulan. Padahal, saya sudah mengalami kenaikan gaji. Tapi, di ujung bulan, pengalaman sama terulang: kehabisan uang!</p>
<p>Sekarang, saya menyadari bahwa mengelola keuangan bagian dari tanggung jawab moral saya. Apalagi sudah hadir seorang anak di keluarga yang kebutuhannya masa kini dan masa mendatang wajib saya penuhi. Saat masih lajang, uang dengan seenaknya saya hamburkan. Bekerja pun tak punya tujuan jelas. Sekarang, usai berkeluarga dan punya anak, saya menemukan tujuan saya bekerja. Apa yang saya lakukan lebih mempunyai makna—demi keluarga.</p>
<p>Selain menabung, saya menyisihkan uang untuk asuransi. Saya sadar bahwa rencana hanya tinggal rencana bila tidak ada aksi. Lebih dari sekadar aksi, saya pun dituntut untuk berani berkorban: mengorbankan beberapa keinginan dengan menyisihkan uang demi kebutuhan keluarga di masa depan. Berkorban kadang memang tak enak karena kudu berugahari—entah dengan menunda keinginan pribadi, mengerem keinginan sesaat, maupun mendahulukan kebutuhan yang menjadi priotitas demi kebutuhan di masa mendatang.</p>
<p>Kita semua pasti sepakat bahwa kita tidak ingin melihat keluarga kita menderita di masa depan, anak kita tidak bisa sekolah, dan sebagainya. Kalau begitu, mari buat rencana keuangan sekarang juga!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/rencana-keuangan-rencana-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komitmen dan Disiplin</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/komitmen-dan-disiplin/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/komitmen-dan-disiplin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 15:57:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arialto</dc:creator>
				<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[awal tahun]]></category>
		<category><![CDATA[disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[komitmen]]></category>
		<category><![CDATA[merencanakan keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Akhir tahun merupakan saat yang tepat untuk melakukan evaluasi atas kondisi keuangan keluarga setahun terakhir. Dan awal tahun adalah saat yang pas untuk melakukan perencanaan keuangan untuk masa depan yang lebih baik. Namun rencana tinggal rencana jika tidak disertai komitmen dan disiplin untuk menjalankannya. Sejak menikah empat tahun yang lalu, saya dan suami selalu meluangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fkomitmen-dan-disiplin%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fkomitmen-dan-disiplin%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1164983_65594167.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-17" style="margin: 5px;" title="Happy family" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1164983_65594167-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Akhir tahun merupakan saat yang tepat untuk melakukan evaluasi atas kondisi keuangan keluarga setahun terakhir. Dan awal tahun adalah saat yang pas untuk melakukan perencanaan keuangan untuk masa depan yang lebih baik. Namun rencana tinggal rencana jika tidak disertai komitmen dan disiplin untuk menjalankannya.<br />
Sejak menikah empat tahun yang lalu, saya dan suami selalu meluangkan waktu untuk membuat perencanaan keuangan keluarga. Kami mengawali diskusi dengan membicarakan apa saja kebutuhan pribadi masing-masing, apa yang termasuk kebutuhan rumah tangga, dan berapa nominal uang yang akan ditabung. <span id="more-34"></span><br />
Kebutuhan pribadi misalnya biaya pemakaian telepon selular, perawatan tubuh, ongkos transportasi, dan lain-lain. Kalau kebutuhan rumah tangga terdiri dari cicilan atau sewa rumah, tagihan PLN, tagihan PAM, pemakaian gas, konsumsi, dan sebagainya. Kedua jenis kebutuhan tersebut dijumlahkan dengan besar uang yang kami sisihkan untuk ditabung.<br />
Secara sederhana, kami mengurangi jumlah pemasukan gabungan bersama suami dengan jumlah pengeluaran tadi. Kalau hasilnya defisit, kami akan memangkas pos pengeluaran kebutuhan pribadi dulu. Jika masih kurang, pos pengeluaran kebutuhan rumah tangga juga dikurangi. Masih kurang juga? Kami akan mengurangi jumlah tabungan dengan sangat terpaksa. Tapi kalau selisihnya lebih, langsung dimasukkan ke tabungan.<br />
Rencananya pengeluaran harian selalu dicatat dengan berbagai cara. Mulai dari fitur “Memo” dalam telepon genggam, buku kas, hingga file Excel di komputer. Selain itu, sejumlah uang sudah disisihkan sejak awal bulan dalam amplop-amplop kecil yang diberi nama sesuai pos pengeluarannya masing-masing. Namun semuanya tidak berhasil dijalankan sesuai rencana. <em>No action, plan only</em>…<br />
Kegagalan itu terjadi karena saya TIDAK DISIPLIN mencatat pengeluaran setiap hari dan TIDAK DISIPLIN dengan batas pengeluaran kebutuhan pribadi atau rumah tangga. Saya merasa seperti orang pelit saat mencatat pengeluaran, apa-apa diperhitungkan. Atau, saya mengandalkan pemasukan tambahan untuk menutupi pengeluaran yang diluar batas tadi.<br />
Hasilnya, kami sulit mencapai target tahun yang berjalan meskipun kebutuhan-kebutuhan pokok tetap terpenuhi. Beberapa hal yang kami mimpikan, tidak berhasil direalisasikan. Sepertinya saya terlalu menyalahkan diri sendiri, tapi memang inilah peran dan tanggung jawab saya dalam keluarga. Tidak sekadar menjadi istri dan ibu, tapi juga manajer keuangan keluarga.<br />
Komitmen untuk membahagiakan keluarga, saya bangun kembali pada awal tahun ini. Tentunya disertai dengan sikap disiplin sebagai bukti nyata dari komitmen itu sendiri. Tahun ini kami harus bisa membuat mimpi itu menjadi kenyataan. Langkah menuju ke sana, saya mulai dengan disiplin mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta patuh pada batas pengeluaran yang ditentukan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/komitmen-dan-disiplin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar dari Pengalaman</title>
		<link>http://kelolauang.com/2010/01/belajar-dari-pengalaman/</link>
		<comments>http://kelolauang.com/2010/01/belajar-dari-pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 14:19:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuris</dc:creator>
				<category><![CDATA[perencaan keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[menabung]]></category>
		<category><![CDATA[merencanakan keuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kelolauang.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Masalah duit memang kadang bikin melilit…hehehe…Apalagi buat aku…dari jamannya masih single sampai sekarang double..eh..berkeluarga, maksudnya…urusan duit suka bikin ribet…:p Dulu ketika masih kecil, lagi jamannya tuh celengan/tabungan yg model rumah-rumahan. Kalau sebelumnya celengan ayam dari tanah liat, waktu itu (jaman masih SD kalau gak salah) dah mulai dipasarkan celengan model rumah mungil begitu. Sampai-sampai jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fbelajar-dari-pengalaman%2F"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fkelolauang.com%2F2010%2F01%2Fbelajar-dari-pengalaman%2F&amp;source=kelolauangcom&amp;style=normal&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><a href="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1105756_96956529.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-15 alignleft" style="margin: 4px;" title="Celengan" src="http://kelolauang.com/wp-content/uploads/2010/01/1105756_96956529-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Masalah duit memang kadang bikin melilit…hehehe…Apalagi buat aku…dari jamannya masih single sampai sekarang double..eh..berkeluarga, maksudnya…urusan duit suka bikin ribet…:p</p>
<p>Dulu ketika masih kecil, lagi jamannya tuh celengan/tabungan yg model rumah-rumahan. Kalau sebelumnya celengan ayam dari tanah liat, waktu itu (jaman masih SD kalau gak salah) dah mulai dipasarkan celengan model rumah mungil begitu. Sampai-sampai jadi trend tersendiri di kalangan anak –anak waktu itu. Setiap anak di sekolah pasti bercerita tentang celengan barunya yg berbentuk rumah. Nah, aku juga tak mau kalah donk…. Mendengar cerita teman-temanku di sekolah, tergiurlah aku untuk memiliki celengan seperti milik mereka. Tanpa basa-basi, merengeklah daku pada kedua orangtua &#8216;tuk minta dibelikan celengan macam itu, dan ternyata mereka mengabulkannya. Maka, kemudian akupun punya celengan berbentuk rumah-rumahan itu, sama seperti milik teman-temanku di sekolah. Celengannya sangat indah (menurut mata pengelihatanku saat itu), berbentuk rumah mungil berdinding putih tulang, beratap warna pink muda, lengkap dengan pintu yg bisa terbuka dan jendelanya, bahkan dilengkapi kunci di bagian bawahnya pula, pokoknya sempurna deh….<br />
<span id="more-9"></span><br />
Masih kuingat betul, waktu itu sekitar tahun 1986&#8230;jumlah uang sakuku per hari : Rp. 100,- (seratus rupiah). Dengan perincian penggunaannya : Rp. 50,- (lima puluh rupiah) untuk ongkos pulang sekolah naik <em>Benhur</em> (sebutan untuk <em>andong/dokar</em> di kota Raba-sebuah kota kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Barat), sedangkan setengahnya lagi, Rp.50,- adalah uang <em>jajan</em> untuk membeli penganan kecil di sekolah. Hanya dengan berbekal uang Rp.50,- rasanya cukup untuk mengenyangkan perutku yg keroncongan saat jam istirahat sekolah. Dengan Rp. 50,- itu  sudah bisa dipakai membeli mie goreng dan tuak manis sebagai minumannya (coba kalau sekarang&#8230;? mana bisa seperti itu, ya? hehehehe..jaman sudah berubah tentunya).</p>
<p>Nah berhubung baru punya celengan baru niy ceritanya, maka dengan semangat 45 setiap hari aku berusaha tidak menghabiskan uang jajanku itu, minimal pasti Rp. 25,- pasti singgah di tabunganku itu. Mendengar bunyi “cetlek..” saat uang logam mungil bersentuhan dengan dasar celengan, rasanya  seperti mendengar alunan musik merdu bagi kedua teliga kecilku, juga memberi semacam kepuasan tersendiri di benakku saat itu&#8230;^_^</p>
<p>Sebelum mendapatkan celengan rumah-rumahan ini, sebenarnya sudah sejak Taman Kanak-Kanak, kami (aku dan adikku)  dibiasakan menabung, dengan arahan papa. Kami bertiga (aku, papa dan adikku) selalu menabung di dalam “tabungan rahasia” kami, yaitu bekas tempat kock (bola bulutangkis) yg sudah tak terpakai lagi. Mengapa kusebut &#8220;tabungan rahasia&#8221;, karena mama tidak tahu soal tabungan kami ini (atau begitulah pemikiranku saat itu).</p>
<p>Setiap pagi sebelum papa mengantar kami berdua ke sekolah-sebelum beliau sendiri berangkat ke kantor, bertiga kami selalu menyempatkan diri mengecek “tabungan rahasia” kami itu. Setelah menabung, Papa dengan antusias pasti akan mengguncang-ngguncang tempat kock itu sambil tersenyum lebar ke arah kami, beliau akan berkata “sudah hampir penuh nih!), dan selanjutnya aku dan adikku pun berebut meniru tindakan papa…mengguncang-guncang tabung itu sejenak, lalu tersenyum puas. Sungguh menyenangkan rasanya, karena untuk pertama kalinya kami belajar mengumpulkan/menyisihkan sesuatu yg kami miliki dan setiap hari melihat “perkembangan”nya…hehehehe…ada rasa bangga, penasaran dan kepuasan di dalamnya.</p>
<p>Hingga suatu pagi, kami bertiga terperangah, karena berdasarkan &#8220;pengecekan awal&#8221; kami merasa berat “tabungan” kami munurun drastis. lha kok jadi ringan, padahal sehari sebelumnya lumayan berat, karena sudah hampir penuh terisi. Dengan rasa penasaran tingkat tinggi yg tergambar jelas di raut wajahnya, papa pun membuka tutup tempat kock itu, dan benar… isinya ternyata tinggal setengah tabung…lha…? Siapa yg ngambil…? kami bertiga saling berpandangan dengan wajah bingung.</p>
<p>Lalu tiba-tiba mama masuk ke dalam kamar dengan langkah santai, dan begitu melihat kami bertiga terkesima memandang “tabungan rahasia” kami yg tinggal setengah isinya itu, beliaupun berujar tenang : “kemarin mama yg ngambil sebagian..” hahahaha….kalau kuingat lagi bagaimana ekspresi ku, adikku dan papa ketika itu..? mengingat ini adalah &#8220;Tabungan rahasia&#8221; kami, yang maksudnya keberadaannya kami &#8220;rahasiakan&#8217; dari mama. Mengingat hal itu kembali, sungguh geli rasanya&#8230;aku ingat bagaimana perasaanku saat itu, antara tak percaya dan kesal juga..kok diambil sih…protes kami bertiga waktu itu…hehehehe…tapi sebenarnya tidak masalah juga sih, dan setelah mendapat penjelasan mama, kamipun tidak keberatan, malah ada rasa bangga sedikit terselip di dada karena &#8220;Tabungan rahasia&#8221; kami, ternyata berguna. Waktu itu mama lagi <em>kepepet</em>, gak ada duit di dompetnya dan karena harus membayar sesuatu, jadilah tabungan kami di”korban”kan. Ketika kurenungkan lagi saat ini, kejadian sederhana macam itulah mungkin yg menjadi salah satu fungsi sederhana pentingnya tabungan buat kita apalagi bagi yg sudah berkeluarga ya…? hehehehe…bisa buat back up di saat mendesak alias darurat, gitchu…:-)</p>
<p>Saat beranjak dewasa, dan sekarang telah menikah dan dikaruniai dua orang anak yg lucu-lucu, terus terang aku masih belum dapat mengelola keuangan rumah tanggaku dengan benar (masih sering ada &#8220;kebocoran di sana-sini&#8221; setiap akhir bulan, walaupun nggak parah-parah amat sih&#8230;hehehehe ngeles.com). Jujur saja, aku sering merasa kagum sendiri dengan pengalaman pengelolaan keuangan kedua orangtuaku di masa lalu.</p>
<p>Pada awal-awal pernikahan kami, aku mencoba meniru teknik mengelola keuangan keluarga ala mama yg selalu kuperhatikan sejak aku masih kecil. Seingatku, dulu mama punya <strong>buku Journal Debet/Kredit</strong> macam akuntan gitu deh…walaupun dalam bentuk yg sederhana banget, bukunya diberi kolom-kolom dengan penggaris. Ada kolom Nomor, Tanggal, Keterangan, Debet dan Kredit nya…padahal latar belakang pendidikan beliau bukan akuntansi lho…beliau hanya mantan guru SD, tapi lumayan jeli jugalah soal pengaturan keuangan keluarga. Setiap malam beliau akan mencatat pengelurannya selama sehari itu dalam Journalnya tersebut. Aku senang mengamatinya, aku pasti selalu berada disebelahnya sambil mencoba membantu mengingatkan apa-apa saja belanjaan kami hari itu, kalau-kalau beliau ada yg kelupaan.</p>
<p>Masa kecilku banyak dihabiskan di luar jawa, mengikuti tugas papa yg dirotasi tugaskan setiap 5 tahun sekali. Menurut mama saat itu, hidup di luar jawa membutuhkan biaya yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan hidup di Jawa, karena segalanya lebih mahal jika dibandingkan di Jawa, oleh karena itu harus pintar-pintar berhemat, begitu menurutnya. Jadi dengan buku Journalnya itu, mama bisa mengecek berapa pengeluarannya tiap bulan, sehingga bisa berhati-hati dalam membelanjakan uang gaji papa. Ide sederhana  dengan tujuan yg luar biasa&#8230;^_^</p>
<p>Mencatat pengeluaran tiap hari seperti yg biasa dilakukan mamaku itu ternyata membutuhkan disiplin tersendiri. Pada awal menikah, aku masih rajin tuh mencatat pengeluaran keluarga kami per hari…tapi lama-lama kok males ya…belum lagi kalau waktu sudah banyak tersita untuk urusan anak (yg waktu itu masih bayi), wah…jadi makin banyak pula alasan untuk lupa mencatat dalam journal dan akhirnya kebiasaan baik itu pun “tenggelam” dalam akibat rutinitas lain dan kurangnya disiplinku…hehehehe…</p>
<p>Hal kedua yg pada awalnya kutiru dari mama dalam mengelola keuangan keluarga adalah membuat “<strong>Amplop Kebutuhan</strong>”. Setiap kali menerima uang gaji dari papa, mama akan memasukkan uang gaji tersebut ke dalam amplop-amplop yg diberi keterangan dibagian luar sesuai peruntukannya, misal : belanja harian, uang sekolah anak-anak, dst. Pada awal menikah sih, teknik ini sempat jadi andalanku juga dalam mengelola keuangan rumah tangga, tapi lagi-lagi masalah disiplin yg kurang niy…hehehehe…akhirnya juga gak bisa berlanjut sampai sekarang…^_^</p>
<p>Hal ketiga yg kucontoh dari mama adalah <strong>menabung untuk pendidikan anak</strong>. Kami bukan keluarga kaya, namun juga tidak kekurangan, ya…pokoknya pas lah…gaji papa cukup, buat hidup kami sekeluarga. Tetapi, kalau sudah punya anak yg lagi kuliah di perguruan tinggi tentunya bakal memakan biaya besar juga tho…rupanya hal ini sudah disadari kedua orangtuaku sejak kami masih kecil dulu. Ketika itu orangtuaku memilih untuk ikut asuransi dengan inisial BP (tulis inisialnya aja, karena gak bermaksud berpromosi..hehehehe).</p>
<p>Sebenarnya aku juga gak begitu<em> ngeh</em> soal perhitungan Asuransi ini, aku yakin kedua orantuaku dulu juga sama. Pemikiran mereka sederhana saja, tiap bulan menyisihkan sebagian uang ditabung buat kepentingan anak-anaknya kelak, dan nanti ketika kami anak-anaknya akan kuliah, uang tersebut sudah mencukupi, jadi gak perlu pusing lagi deh nyari biaya kuliah.</p>
<p>Pemikiran sederhana itu ternyata terbukti. Ketika itu, orangtuaku mengikuti Asuransi BP dengan system index istilahnya, jadi mengikuti nilai tukar rupiah ke dollar (kalau gak salah, ya&#8230;). Tahun 1998 aku lulus SMA dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Di tahun itu pulalah maka sesuai dengan polis asuransi, waktunya bagi dana asuransiku untuk cair.  Namun, di luar perkiraan kami semua, di tahun yang sama terjadi kejadian “luar biasa”, dimana tahun itu terjadi gejolak reformasi di Indonesia sekaligus krisis moneter luar biasa yang mengakibatkan terpuruknya nilai mata uang kita (rupiah) terhadap dollarnya <em>wong</em> Amerika.  Ketika rupiah mencapai Rp. 11.000 per Dollar-nya (kalau gak salah inget ya&#8230;), asuransi pendidikanku pun cair dan akibat perubahan nilai tukar yg drastis itu pula, maka dana asuransiku yang cair ternyata berjumlah lebih dari dua kali lipat dari yang seharusnya kami terima bila rupiah berada dalam kisaran normal. Aku masih ingat, saat itu papa ditugaskan di Kabanjahe (Sumut), dan karena masih liburan sekolah (kelulusan SMA), aku pun berlibur ke sana..dan di sana pulalah setiap hari kami sekeluarga <em>mantengin</em> berita tentang kurs rupiah terhadap dollar, yang tayang setiap menitnya. Perasaan kami campur aduk waktu itu, antara kecemasan luar biasa melihat ekonomi negara yang begitu cepat porak poranda, namun juga rasa tak percaya dan syukur melihat perubahan nilai tukar dilayar kaca tiap menitnya itu, karena dana asuransiku yg akan cair tergantung nilai tukar itu. (Setelah krisis ekonomi 1998, asuransi BP itu kemudian meniadakan model asuransi metode indeks, seperti yg telah diikuti ortuku itu, mungkin mereka juga belajar dari pengalaman saat itu ya..^_^)</p>
<p>Mendapatkan anugerah di tengah badai macam itu, tentu saja membuat kami sekeluarga mengucap syukur kepada Tuhan. Bahwa di tengah kesulitan ekonomi Negara yg pelik, ternyata kami sekeluarga mendapat berkat luar biasa dan tak terbayangkan saat itu (tidak ada maksud berbahagia di atas penderitaan orang lain lho&#8230;hanya menucap syukur atas apa yg kami peroleh di tengah kesulitan hidup yg melanda). Dan karena aku masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yg tidak begitu memakan biaya banyak, akhirnya uang asuransi itupun dipergunakan adikku pada tahun berikutnya untuk masuk kuliah di perguruan tinggi Swasta, yg lumayan memakan biaya besar. Bagi kami sekeluarga hal itu rasanya mukjizat, bayangkan saja bila kedua orangtuaku tidak menabung di Asuransi pendidikan ketika kami masih kecil dulu, gak tahu deh bagaimana kelimpungannya mereka ketika harus mendapatkan biaya untuk kuliah kami.</p>
<p>Belajar dari pengalaman kedua orangtuaku itu, maka aku dan suami pun mengambil Asuransi untuk kedua buah hati kami. Sedikit-sedikit, tiap bulan harus menyisihkan sebagian gaji buat pendidikan mereka kelak. Menurutku sampai saat ini itulah langkah paling aman, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi di masa datang. Dengan menabung sedikit demi sedikit seperti itu minimal kita berusaha melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.</p>
<p>Memasuki tahun 2010 ini, tentu masing-masing dari kita mengharapkan yg terbaik buat tahun mendatang. Buatku pribadi, resolusiku mengenai keuangan keluarga, hanya satu : mulai belajar lagi untuk disiplin mengatur pengeluarannya…(duuuhh…kayaknya susyeeeh bener niy…tapi, harus bisaaaaa!!!! Ayo…kamu bisaaaaa….!!!) ^_^</p>
<p>Selamat Tahun Baru 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kelolauang.com/2010/01/belajar-dari-pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

