“Sebenarnya elu jualan ini dalam rangka apa sih, bro?” tanyaku lewat telepon pada sobat yang dalam beberapa waktu belakangan ini ”aktif” menjual apapun termasuk membuat online shop di dunia maya dan jualan senjata mainan yang menjadi hobinya: airsoftgun.
“Ini hanya buat elu aja ya bro ….. gue butuh tambahan uang buat uang pangkal anakku yang akan masuk sekolah dasar sebesar delapan juta rupiah. Gue butuh sebelum tanggal 23 Januari”, ujarnya lirih di ujung telepon.
Gedubrakkkk ……
Sebenarnya aku pengen nyeletuk menasehati sobatku itu namun memahami perasaan seorang ayah yang akan melakukan apapun demi kabahagiaan anaknya, aku membatalkan memberikan nasehat. Aku segera menghubungi seorang sobat yang juga sealumni sekolah yang selalu mempunyai dana cadangan dalam hidupnya. Singkat cerita: sobatku yang membutuhkan dana tersebut dibantu dana oleh sobatku yang lain.
Hidup ini memang aneh ya …… sobatku yang hobi airsoftgun tersebut di atas bukanlah karyawan biasa di perusahaan biasa pula. Sobatku ini lulusan beasiswa S2 dari luar negeri yang bekerja di perusahaan asing dengan level manager meski digaji dalam mata uang rupiah. Dengan memperhatikan lokasi rumahnya yang berada di kawasan perumahan elit, dugaan awalku adalah TIDAKLAH MUNGKIN SELEVEL TEMANKU INI BERMASALAH DALAM PERENCANAAN KEUANGAN.
Tapi ternyata memang, perencanaan keuangan utamanya keuangan keluarga bukanlah hal mudah untuk diterapkan.
Aku teringat ajakan sobatku tersebut beberapa bulan yang lalu untuk bermain airsoftgun. Aku menapiknya ringan : ”Saat-saat ini aku lagi nggak punya hobi yang berhubungan dengan buang uang, bro”. Sobatku menjawab :” Kan elu bakalan dapat relasi baru yang bisa elu tawarin produk elu”. Benar juga pemikiran sobatku ini tapi aku menjawab; ”Saat ini aku belum punya dana entertain, aku masih fokus mewujudkan dana cadangan keluarga. Kalaupun ada entertaint, aku coba usahakan acara sosial yang minim cost namun mempunyai manfaat pergaulan yang baik. Apa nggak lebih baik dana main airsoftgun-mu itu dikurangi dari yang sebulan 3x menjadi 1x trus dana yang tadinya buat main airsoft gun-mu ini ditabung buat pendidikan anakmu?”.
Pertanyaan yang di kemudian hari terjawab ………
Mungkin obrolan di atas adalah khas obrolan manager di Jakarta atau di tempat lain yang membutuhkan relasi yang luas dalam mengembangkan bisnis dan pekerjaannya. Resiko pekerjaan, mungkin itu sebagian orang lain mengatakan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan humas, pemasaran, marketing dan komunikasi; membutuhkan biaya relasi dengan orang lain.
Saya pun membuka kembali ingatan akan adegium : PENGHASILAN/GAJI BESAR SEJAJAR DENGAN PENGELUARAN YANG BESAR. Kata orang-orang ini efek dari perubahan gaya hidup. Yang tadinya asisten manager masih mau makan di kantin kantor di basement, nah begitu naik jabatan jadi manager harus sering makan di restoran Jepang/Korea di hotel berbintang dengan biaya yang sangat mahal.
Terkadang saya merenung, apa mesti begitu ya .. apa memang jadi direktur/manager tidak layak lagi makan di sembarang tempat demi PENCITRAAN DIRI? Kalau begitu beruntunglah saya yang belum termasuk golongan level seperti itu. Saya masih bisa menjadi diri saya sendiri yang bisa makan di kaki lima sampai di restaurant ternama tanpa mesti risih dengan pandangan orang sekitar. Saya nyaman dengan keadaan saya yang menjadi diri saya ini. Saya memaksakan diri untuk dapat menabung secara rutin berapapun penghasilan yang saya dan istri punyai. Ini disebabkan situasi yang kami sebabkan sendiri mengingat kami mempunyai beberapa instrumen keuangan yang ”mewajibkan” kami menabung rutin baik bagi pendidikan putri kami maupun persiapan hari tua dan pemeliharaan kesehatan pasca pensiun kami. Di luar instrumen keuangan ini pun kami mencoba menabung untuk mempunyai DANA CADANGAN KELUARGA minimal 3X pengeluaran bulanan kami. Puji Tuhan, Dana Cadangan tersebut sudah kami miliki akhir tahun lalu. Sehingga sekarang kami fokus untuk meraih impian kami tanpa perlu merasa was-was bahkan mengalami permasalahan seperti yang dialami sobatku tersebut.
Saya menyadari bahwa menabung bukanlah perkara BERAPA BESAR PENGHASILAN/GAJI yang kita punya. Menabung adalah keinginan/komitmen diri untuk menyisihkan sebagian dari apa yang kita terima ke dalam suatu instrumen keuangan yang secara sadar kita pilih : Perbankan (Tabungan-deposito); Asuransi atau reksadana dan bursa (saham atau komoditas); bahkan investasi real seperti emas dan tanah/properti.
Menabung haruslah menjadi GAYA HIDUP semua orang yang ingin menyiapkan masa depan. Menabung sendiri berarti menyicil bagi Masa Depan yang kita rencanakan. MENABUNG DEMI MASA DEPAN berarti kita sudah MENABUNG MASA DEPAN yang siap kita wujudkan. Kita mesti lebih bangga telah mempunyai tabungan daripada bergaya dengan semua barang konsumtif yang semestinya bisa kita tunda peruntukannya.
Kita tidak perlu harus bergelar S2 atau S3 atau bekerja di perusahaan yang bonafide atau mempunyai jabatan pekerjaan yang hebat untuk mulai menabung. Menabung adalah GAIRAH HIDUP bagi semua orang yang ingin mempunyai masa depan. Maka mulailah menabung, jangan ditunda. Menabunglah sekarang juga! Cobalah membiasakan diri menyisihkan secara rutin penghasilan Anda dalam pilihan instrumen keuangan yang Anda pahami.
Selamat mempunyai GAYA HIDUP dan GAIRAH HIDUP : MENABUNG MASA DEPAN !
Yosep Sudarso A.A; S.Mn, AAK, AAAIJ
Praktisi Industri Keuangan
{ 4 comments… read them below or add one }
Bang Yosep terimakasih atas tulisan abang yang mengingatkan saya akan pentingnya menabung demi masa depan. Sebelum poundsterling crash di pasar uang saya ingin menyisipkan sebagian tabungan saya ke dana pensiun untuk persiapan apabila nanti saya ingin menghabiskan masa tua saya di tanah air. Pertanyaan saya, apakah bisa saya membayar premi saya secara bertahap setiap bulan? Dan apakah bisa saya minta perencanaan keuangannya dikirim via e-mail saya? Terimakasih banyak atas bantuan bang Yosep. Regards, Makin.
Salam Kenal Bung Yosep…
sangat inspiratif… !!!!
kebetulan saya sekarang juga berkecimpung di dunia keuangan..
saya selalu ingat petuah orang tua :
MENABUNGLAH DIHARI SAAT KAMU GAJIAN..
ya, begitu simple namun orang2 kita sering melupakannya, komitmen untuk mengalokasikan sebagian uang dihari kita menerima gaji memang agak berat…karena dalam kebiasaannya, menabung di masyarakat kita berarti uang sisa gaji setelah pengeluaran bulanan, ya itu kalo ada sisa , kalo gak ada ya berarti gak nabung..hehehehe
Trima kasih atas komentarnya ya Bung Maki Maulana…mari bersama kita menyadarkan diri sendiri dan orang lain untuk mulai menabung rutin dan teratur demi masa depan. Bukan “hari depan gimana ntar aja” tapi, “hari depan bagaimana”.
Bung Maki juga kasi artikel dong buat meramaikan.
Yosep Sudarso A.A
trimakasih bung..sudah mau share, betul sekali dengan menabung kita bisa menyiapkan pola keuangan masa depan kita..dari pada kita konsumtif mending kita menabung..