Komitmen dan Disiplin

by arialto on January 3, 2010

Akhir tahun merupakan saat yang tepat untuk melakukan evaluasi atas kondisi keuangan keluarga setahun terakhir. Dan awal tahun adalah saat yang pas untuk melakukan perencanaan keuangan untuk masa depan yang lebih baik. Namun rencana tinggal rencana jika tidak disertai komitmen dan disiplin untuk menjalankannya.
Sejak menikah empat tahun yang lalu, saya dan suami selalu meluangkan waktu untuk membuat perencanaan keuangan keluarga. Kami mengawali diskusi dengan membicarakan apa saja kebutuhan pribadi masing-masing, apa yang termasuk kebutuhan rumah tangga, dan berapa nominal uang yang akan ditabung.
Kebutuhan pribadi misalnya biaya pemakaian telepon selular, perawatan tubuh, ongkos transportasi, dan lain-lain. Kalau kebutuhan rumah tangga terdiri dari cicilan atau sewa rumah, tagihan PLN, tagihan PAM, pemakaian gas, konsumsi, dan sebagainya. Kedua jenis kebutuhan tersebut dijumlahkan dengan besar uang yang kami sisihkan untuk ditabung.
Secara sederhana, kami mengurangi jumlah pemasukan gabungan bersama suami dengan jumlah pengeluaran tadi. Kalau hasilnya defisit, kami akan memangkas pos pengeluaran kebutuhan pribadi dulu. Jika masih kurang, pos pengeluaran kebutuhan rumah tangga juga dikurangi. Masih kurang juga? Kami akan mengurangi jumlah tabungan dengan sangat terpaksa. Tapi kalau selisihnya lebih, langsung dimasukkan ke tabungan.
Rencananya pengeluaran harian selalu dicatat dengan berbagai cara. Mulai dari fitur “Memo” dalam telepon genggam, buku kas, hingga file Excel di komputer. Selain itu, sejumlah uang sudah disisihkan sejak awal bulan dalam amplop-amplop kecil yang diberi nama sesuai pos pengeluarannya masing-masing. Namun semuanya tidak berhasil dijalankan sesuai rencana. No action, plan only
Kegagalan itu terjadi karena saya TIDAK DISIPLIN mencatat pengeluaran setiap hari dan TIDAK DISIPLIN dengan batas pengeluaran kebutuhan pribadi atau rumah tangga. Saya merasa seperti orang pelit saat mencatat pengeluaran, apa-apa diperhitungkan. Atau, saya mengandalkan pemasukan tambahan untuk menutupi pengeluaran yang diluar batas tadi.
Hasilnya, kami sulit mencapai target tahun yang berjalan meskipun kebutuhan-kebutuhan pokok tetap terpenuhi. Beberapa hal yang kami mimpikan, tidak berhasil direalisasikan. Sepertinya saya terlalu menyalahkan diri sendiri, tapi memang inilah peran dan tanggung jawab saya dalam keluarga. Tidak sekadar menjadi istri dan ibu, tapi juga manajer keuangan keluarga.
Komitmen untuk membahagiakan keluarga, saya bangun kembali pada awal tahun ini. Tentunya disertai dengan sikap disiplin sebagai bukti nyata dari komitmen itu sendiri. Tahun ini kami harus bisa membuat mimpi itu menjadi kenyataan. Langkah menuju ke sana, saya mulai dengan disiplin mencatat pemasukan dan pengeluaran, serta patuh pada batas pengeluaran yang ditentukan.

{ 3 comments… read them below or add one }

yuris January 4, 2010 at 10:56 am

Super sekaleeee…Fiiiuhhh..mesti mulai disiplin juga niy…^_*

budipru January 5, 2010 at 5:40 am

disiplin, mudah disebut susah banget dipraktekkan nihhh…

sustradewi February 20, 2010 at 7:06 pm

Benar sekali. akibat tdk dìsiplin, keuangan sy jg jadi morat marit. dulu jg sempat buat lap.keuangan, tp skrg gak lg. mudah2an dlm mggu ini bs dibuat lg. makasih atas ceritanya yg membuat kita jd termotivasi lg.

Leave a Comment

Previous post:

Next post: