Belajar dari Pengalaman

by yuris on January 1, 2010

Masalah duit memang kadang bikin melilit…hehehe…Apalagi buat aku…dari jamannya masih single sampai sekarang double..eh..berkeluarga, maksudnya…urusan duit suka bikin ribet…:p

Dulu ketika masih kecil, lagi jamannya tuh celengan/tabungan yg model rumah-rumahan. Kalau sebelumnya celengan ayam dari tanah liat, waktu itu (jaman masih SD kalau gak salah) dah mulai dipasarkan celengan model rumah mungil begitu. Sampai-sampai jadi trend tersendiri di kalangan anak –anak waktu itu. Setiap anak di sekolah pasti bercerita tentang celengan barunya yg berbentuk rumah. Nah, aku juga tak mau kalah donk…. Mendengar cerita teman-temanku di sekolah, tergiurlah aku untuk memiliki celengan seperti milik mereka. Tanpa basa-basi, merengeklah daku pada kedua orangtua ‘tuk minta dibelikan celengan macam itu, dan ternyata mereka mengabulkannya. Maka, kemudian akupun punya celengan berbentuk rumah-rumahan itu, sama seperti milik teman-temanku di sekolah. Celengannya sangat indah (menurut mata pengelihatanku saat itu), berbentuk rumah mungil berdinding putih tulang, beratap warna pink muda, lengkap dengan pintu yg bisa terbuka dan jendelanya, bahkan dilengkapi kunci di bagian bawahnya pula, pokoknya sempurna deh….

Masih kuingat betul, waktu itu sekitar tahun 1986…jumlah uang sakuku per hari : Rp. 100,- (seratus rupiah). Dengan perincian penggunaannya : Rp. 50,- (lima puluh rupiah) untuk ongkos pulang sekolah naik Benhur (sebutan untuk andong/dokar di kota Raba-sebuah kota kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Barat), sedangkan setengahnya lagi, Rp.50,- adalah uang jajan untuk membeli penganan kecil di sekolah. Hanya dengan berbekal uang Rp.50,- rasanya cukup untuk mengenyangkan perutku yg keroncongan saat jam istirahat sekolah. Dengan Rp. 50,- itu  sudah bisa dipakai membeli mie goreng dan tuak manis sebagai minumannya (coba kalau sekarang…? mana bisa seperti itu, ya? hehehehe..jaman sudah berubah tentunya).

Nah berhubung baru punya celengan baru niy ceritanya, maka dengan semangat 45 setiap hari aku berusaha tidak menghabiskan uang jajanku itu, minimal pasti Rp. 25,- pasti singgah di tabunganku itu. Mendengar bunyi “cetlek..” saat uang logam mungil bersentuhan dengan dasar celengan, rasanya  seperti mendengar alunan musik merdu bagi kedua teliga kecilku, juga memberi semacam kepuasan tersendiri di benakku saat itu…^_^

Sebelum mendapatkan celengan rumah-rumahan ini, sebenarnya sudah sejak Taman Kanak-Kanak, kami (aku dan adikku)  dibiasakan menabung, dengan arahan papa. Kami bertiga (aku, papa dan adikku) selalu menabung di dalam “tabungan rahasia” kami, yaitu bekas tempat kock (bola bulutangkis) yg sudah tak terpakai lagi. Mengapa kusebut “tabungan rahasia”, karena mama tidak tahu soal tabungan kami ini (atau begitulah pemikiranku saat itu).

Setiap pagi sebelum papa mengantar kami berdua ke sekolah-sebelum beliau sendiri berangkat ke kantor, bertiga kami selalu menyempatkan diri mengecek “tabungan rahasia” kami itu. Setelah menabung, Papa dengan antusias pasti akan mengguncang-ngguncang tempat kock itu sambil tersenyum lebar ke arah kami, beliau akan berkata “sudah hampir penuh nih!), dan selanjutnya aku dan adikku pun berebut meniru tindakan papa…mengguncang-guncang tabung itu sejenak, lalu tersenyum puas. Sungguh menyenangkan rasanya, karena untuk pertama kalinya kami belajar mengumpulkan/menyisihkan sesuatu yg kami miliki dan setiap hari melihat “perkembangan”nya…hehehehe…ada rasa bangga, penasaran dan kepuasan di dalamnya.

Hingga suatu pagi, kami bertiga terperangah, karena berdasarkan “pengecekan awal” kami merasa berat “tabungan” kami munurun drastis. lha kok jadi ringan, padahal sehari sebelumnya lumayan berat, karena sudah hampir penuh terisi. Dengan rasa penasaran tingkat tinggi yg tergambar jelas di raut wajahnya, papa pun membuka tutup tempat kock itu, dan benar… isinya ternyata tinggal setengah tabung…lha…? Siapa yg ngambil…? kami bertiga saling berpandangan dengan wajah bingung.

Lalu tiba-tiba mama masuk ke dalam kamar dengan langkah santai, dan begitu melihat kami bertiga terkesima memandang “tabungan rahasia” kami yg tinggal setengah isinya itu, beliaupun berujar tenang : “kemarin mama yg ngambil sebagian..” hahahaha….kalau kuingat lagi bagaimana ekspresi ku, adikku dan papa ketika itu..? mengingat ini adalah “Tabungan rahasia” kami, yang maksudnya keberadaannya kami “rahasiakan’ dari mama. Mengingat hal itu kembali, sungguh geli rasanya…aku ingat bagaimana perasaanku saat itu, antara tak percaya dan kesal juga..kok diambil sih…protes kami bertiga waktu itu…hehehehe…tapi sebenarnya tidak masalah juga sih, dan setelah mendapat penjelasan mama, kamipun tidak keberatan, malah ada rasa bangga sedikit terselip di dada karena “Tabungan rahasia” kami, ternyata berguna. Waktu itu mama lagi kepepet, gak ada duit di dompetnya dan karena harus membayar sesuatu, jadilah tabungan kami di”korban”kan. Ketika kurenungkan lagi saat ini, kejadian sederhana macam itulah mungkin yg menjadi salah satu fungsi sederhana pentingnya tabungan buat kita apalagi bagi yg sudah berkeluarga ya…? hehehehe…bisa buat back up di saat mendesak alias darurat, gitchu…:-)

Saat beranjak dewasa, dan sekarang telah menikah dan dikaruniai dua orang anak yg lucu-lucu, terus terang aku masih belum dapat mengelola keuangan rumah tanggaku dengan benar (masih sering ada “kebocoran di sana-sini” setiap akhir bulan, walaupun nggak parah-parah amat sih…hehehehe ngeles.com). Jujur saja, aku sering merasa kagum sendiri dengan pengalaman pengelolaan keuangan kedua orangtuaku di masa lalu.

Pada awal-awal pernikahan kami, aku mencoba meniru teknik mengelola keuangan keluarga ala mama yg selalu kuperhatikan sejak aku masih kecil. Seingatku, dulu mama punya buku Journal Debet/Kredit macam akuntan gitu deh…walaupun dalam bentuk yg sederhana banget, bukunya diberi kolom-kolom dengan penggaris. Ada kolom Nomor, Tanggal, Keterangan, Debet dan Kredit nya…padahal latar belakang pendidikan beliau bukan akuntansi lho…beliau hanya mantan guru SD, tapi lumayan jeli jugalah soal pengaturan keuangan keluarga. Setiap malam beliau akan mencatat pengelurannya selama sehari itu dalam Journalnya tersebut. Aku senang mengamatinya, aku pasti selalu berada disebelahnya sambil mencoba membantu mengingatkan apa-apa saja belanjaan kami hari itu, kalau-kalau beliau ada yg kelupaan.

Masa kecilku banyak dihabiskan di luar jawa, mengikuti tugas papa yg dirotasi tugaskan setiap 5 tahun sekali. Menurut mama saat itu, hidup di luar jawa membutuhkan biaya yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan hidup di Jawa, karena segalanya lebih mahal jika dibandingkan di Jawa, oleh karena itu harus pintar-pintar berhemat, begitu menurutnya. Jadi dengan buku Journalnya itu, mama bisa mengecek berapa pengeluarannya tiap bulan, sehingga bisa berhati-hati dalam membelanjakan uang gaji papa. Ide sederhana  dengan tujuan yg luar biasa…^_^

Mencatat pengeluaran tiap hari seperti yg biasa dilakukan mamaku itu ternyata membutuhkan disiplin tersendiri. Pada awal menikah, aku masih rajin tuh mencatat pengeluaran keluarga kami per hari…tapi lama-lama kok males ya…belum lagi kalau waktu sudah banyak tersita untuk urusan anak (yg waktu itu masih bayi), wah…jadi makin banyak pula alasan untuk lupa mencatat dalam journal dan akhirnya kebiasaan baik itu pun “tenggelam” dalam akibat rutinitas lain dan kurangnya disiplinku…hehehehe…

Hal kedua yg pada awalnya kutiru dari mama dalam mengelola keuangan keluarga adalah membuat “Amplop Kebutuhan”. Setiap kali menerima uang gaji dari papa, mama akan memasukkan uang gaji tersebut ke dalam amplop-amplop yg diberi keterangan dibagian luar sesuai peruntukannya, misal : belanja harian, uang sekolah anak-anak, dst. Pada awal menikah sih, teknik ini sempat jadi andalanku juga dalam mengelola keuangan rumah tangga, tapi lagi-lagi masalah disiplin yg kurang niy…hehehehe…akhirnya juga gak bisa berlanjut sampai sekarang…^_^

Hal ketiga yg kucontoh dari mama adalah menabung untuk pendidikan anak. Kami bukan keluarga kaya, namun juga tidak kekurangan, ya…pokoknya pas lah…gaji papa cukup, buat hidup kami sekeluarga. Tetapi, kalau sudah punya anak yg lagi kuliah di perguruan tinggi tentunya bakal memakan biaya besar juga tho…rupanya hal ini sudah disadari kedua orangtuaku sejak kami masih kecil dulu. Ketika itu orangtuaku memilih untuk ikut asuransi dengan inisial BP (tulis inisialnya aja, karena gak bermaksud berpromosi..hehehehe).

Sebenarnya aku juga gak begitu ngeh soal perhitungan Asuransi ini, aku yakin kedua orantuaku dulu juga sama. Pemikiran mereka sederhana saja, tiap bulan menyisihkan sebagian uang ditabung buat kepentingan anak-anaknya kelak, dan nanti ketika kami anak-anaknya akan kuliah, uang tersebut sudah mencukupi, jadi gak perlu pusing lagi deh nyari biaya kuliah.

Pemikiran sederhana itu ternyata terbukti. Ketika itu, orangtuaku mengikuti Asuransi BP dengan system index istilahnya, jadi mengikuti nilai tukar rupiah ke dollar (kalau gak salah, ya…). Tahun 1998 aku lulus SMA dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Di tahun itu pulalah maka sesuai dengan polis asuransi, waktunya bagi dana asuransiku untuk cair.  Namun, di luar perkiraan kami semua, di tahun yang sama terjadi kejadian “luar biasa”, dimana tahun itu terjadi gejolak reformasi di Indonesia sekaligus krisis moneter luar biasa yang mengakibatkan terpuruknya nilai mata uang kita (rupiah) terhadap dollarnya wong Amerika.  Ketika rupiah mencapai Rp. 11.000 per Dollar-nya (kalau gak salah inget ya…), asuransi pendidikanku pun cair dan akibat perubahan nilai tukar yg drastis itu pula, maka dana asuransiku yang cair ternyata berjumlah lebih dari dua kali lipat dari yang seharusnya kami terima bila rupiah berada dalam kisaran normal. Aku masih ingat, saat itu papa ditugaskan di Kabanjahe (Sumut), dan karena masih liburan sekolah (kelulusan SMA), aku pun berlibur ke sana..dan di sana pulalah setiap hari kami sekeluarga mantengin berita tentang kurs rupiah terhadap dollar, yang tayang setiap menitnya. Perasaan kami campur aduk waktu itu, antara kecemasan luar biasa melihat ekonomi negara yang begitu cepat porak poranda, namun juga rasa tak percaya dan syukur melihat perubahan nilai tukar dilayar kaca tiap menitnya itu, karena dana asuransiku yg akan cair tergantung nilai tukar itu. (Setelah krisis ekonomi 1998, asuransi BP itu kemudian meniadakan model asuransi metode indeks, seperti yg telah diikuti ortuku itu, mungkin mereka juga belajar dari pengalaman saat itu ya..^_^)

Mendapatkan anugerah di tengah badai macam itu, tentu saja membuat kami sekeluarga mengucap syukur kepada Tuhan. Bahwa di tengah kesulitan ekonomi Negara yg pelik, ternyata kami sekeluarga mendapat berkat luar biasa dan tak terbayangkan saat itu (tidak ada maksud berbahagia di atas penderitaan orang lain lho…hanya menucap syukur atas apa yg kami peroleh di tengah kesulitan hidup yg melanda). Dan karena aku masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yg tidak begitu memakan biaya banyak, akhirnya uang asuransi itupun dipergunakan adikku pada tahun berikutnya untuk masuk kuliah di perguruan tinggi Swasta, yg lumayan memakan biaya besar. Bagi kami sekeluarga hal itu rasanya mukjizat, bayangkan saja bila kedua orangtuaku tidak menabung di Asuransi pendidikan ketika kami masih kecil dulu, gak tahu deh bagaimana kelimpungannya mereka ketika harus mendapatkan biaya untuk kuliah kami.

Belajar dari pengalaman kedua orangtuaku itu, maka aku dan suami pun mengambil Asuransi untuk kedua buah hati kami. Sedikit-sedikit, tiap bulan harus menyisihkan sebagian gaji buat pendidikan mereka kelak. Menurutku sampai saat ini itulah langkah paling aman, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi di masa datang. Dengan menabung sedikit demi sedikit seperti itu minimal kita berusaha melakukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.

Memasuki tahun 2010 ini, tentu masing-masing dari kita mengharapkan yg terbaik buat tahun mendatang. Buatku pribadi, resolusiku mengenai keuangan keluarga, hanya satu : mulai belajar lagi untuk disiplin mengatur pengeluarannya…(duuuhh…kayaknya susyeeeh bener niy…tapi, harus bisaaaaa!!!! Ayo…kamu bisaaaaa….!!!) ^_^

Selamat Tahun Baru 2010.

{ 3 comments… read them below or add one }

pru January 2, 2010 at 2:26 am

woa.. kamu bisaaa :) aku juga pengin bisa… saya pantau terus lanjutan pengalamannya deh

yuris January 4, 2010 at 11:24 am

waduh, ada “pemantau” rupanya…hehehehe..:p

Sebastianus Waryanto January 5, 2010 at 8:53 am

Wah, ikutan belajar ya….buat persiapan berkeluarga :)

Leave a Comment

Previous post:

Next post: